ECM E-kom Cyber Media

Carilah Ilmu Selagi Hayat Dikandung Badan

Modal Utama Pencari Kerja

Posted by Eko pada Juli 18, 2008

‘Ketika sudah bicara mencari pekerjaan, sepertinya tidak ada kesimpulan yang “wah” atau “aduhai”. Sebagian besar kita punya kesimpulan yang “aduuuh”. Hanya sedikit dari sekian ribu angkatan kerja pertahun yang punya kesimpulan “aduhai”. Sampai-sampai ada guyonan banyak yang ijazahnya terbakar karena saking seringnya di-fotocopy untuk urusan melamar kerja.

Saking sulitnya mencari kerja itu hingga tidak sedikit yang akhirnya menyimpulkan bahwa mencari kerja ini adalah urusan nasib. Nasib di sini maksudnya adalah sebuah wilayah yang tak terjamahkan oleh prediksi. Mengapa pekerjaan itu sedemikian sulit ditemukan di negeri sendiri?  Kalau melihat ke lapangan, ada sedikitnya dua hal yang perlu disadari:

1.      Faktor eksternal.

Untuk mendapatkan pekerjaan yang “asal kerja” saja ini memang sulit, apalagi yang benar-benar sesuai dengan background pendidikan. Ini lebih sulit lagi.  Sejumlah kesulitan itu disebabkan, antara lain:

Kondisi ekonomi secara makro sampai ke mikro.

Ketidakseimbangan pertumbuhan antara peluang kerja baru untuk lulusan baru dan jumlah lulusan baru

(berlaku untuk daerah tertentu atau bidang tertentu)

Tingginya persyaratan yang ditetapkan perusahaan untuk tenaga baru

Tingginya biaya kerja ke luar negeri bagi yang punya keinginan ke sana

Jauhnya link-match antara yang diberikan lembaga pendidikan (supplier) dan yang diminta industri

(demander)

Adanya KKN formal dan non-formal yang belum bisa dibersihkan secara tuntas dalam birokrasi swasta atau

pemerintah untuk urusan penerimaan tenaga baru

Model persaingan yang tidak jelas sebagai akibat dari pemerataan pembangunan yang belum optimal dilakukan

pemerintah

Lemahnya niat baik para pemilik peluang untuk menolong para pekerja baru (aturan normatif) atas nama

sesama bangsa sendiri

Dan lain-lain dan seterusnya.

2.      Faktor internal

Karena menghadapi kesulitan yang saking sulitnya dijabarkan dengan kata-kata dan logika itu, maka tak sedikit dari kita yang  terungkap dalam kata-kata, misalnya: saya sudah frustasi, saya sudah putus asa, saya sudah tidak mau lagi nglamarngalamar kerja karena toh hasilnya sama, dan lain-lain.

Sadar atau tidak sadar, sebetulnya inilah masalah yang ada di dalam diri kita. Artinya, jika kita ternyata belum mendapatkan pekerjaan sampai hari ini padahal kita sudah lama diwisuda,  maka yang ikut andil untuk menciptakan keadaan semacam ini bukan saja sulitnya mencari kerja di negeri sendiri, tetapi juga karena kita sudah malas-malasan, frustasi, sudah putus asa, dan semisalnya.

Kalau dijelaskan dengan logika perjuangan, maka masalah yang kedua ini yang lebih berbahaya. Kenapa? Sesulit apapun persoalan mencari kerja ini, namun kalau kita tetap mencari dengan kegigihan dan kemauan keras, maka (menurut “Teori Tuhannya”), kita PASTI  akan mendapatkan pekerjaan. Soal ini cocok atau tidak menurut versi kita, soal itu kapan dan dimana, ini soal teknis orang hidup. Kita dituntut untuk pandai-pandai mempertimbangkannya.

Tetapi akan berbeda halnya ketika kita sudah tahu sedang menghadapi keadaan eksternal yang sulit ditambah lagi dengan respon (cara menghadapi) yang negatif. Bisa kita bayangkan sendiri. Keadaan eksternal yang mudah saja akan menjadi tidak mudah apabila  ditanggapi secara negatif, apalagi  keadaan yang sulit dihadapi dengan respon yang negatif. Sulitnya berlipat ganda, tentu.

Selain ada masalah mentalitas, masalah yang kerap muncul juga adalah soal keahlian teknis atau keahlian kerja. Keahlian kerja adalah jenis ilmu pengetahuan khusus yang bisa digunakan untuk menyelesaikan persoalan di tempat kerja. Kalau kita hanya tahu akunting dari teori-teorinya, belum tentu ini bisa digunakan untuk menyelesaikan persoalan di tempat kerja. Dunia kerja menuntut penguasaan teori dan praktek. Soal kadarnya berapa, ini yang akan berbicara nanti proses.

Dari berbagai kasus di lapangan menunjukkan bahwa rendahnya penguasaan teknis (keahlian kerja) yang dimiliki oleh angkatan kerja baru, ini tak hanya mempersulit calon pencari kerja saja, tetapi juga ikut mempersulit perusahaan pencari tenaga kerja (pemilik peluang). Sampai-sampai ada ungkapan: kalau sekedar ingin mencari orang yang mau kerja atau ingin kerja, ini jumlahnya berlebih. Tapi untuk mendapatkan orang yang mau dan mampu bekerja, ini jumlahnya selalu kurang. Karena itu, tak sedikit dari pemilik peluang yang berinisiatif untuk iklan meski harus bayar mahal.

Ini semua sebetulnya adalah masalah sudah kita ketahui. Mencari pekerjaan memang sulit. Karena itu, dibutuhkan usaha yang serius supaya bisa mendapatkannya. Cuma memang yang lebih sering terjadi, pengetahuan kita tentang sulitnya mencari pekerjaan itu kurang kita gunakan untuk mendorong kesadaran untuk menciptakan penyiasatan-penyiasatan yang kreatif guna mempercepat proses mendapatkan pekerjaan.

Butuh Strategi

Penyiasatan yang perlu kita lakukan untuk mempercepat proses itu mencakup dua hal, yaitu: a) Strategi teknis, dan b) Strategi non-teknis. Di antara strategi teknis itu misalnya:

1.      Perlu memperbaiki penulisan surat lamaran

Ada pengalaman sedikit yang mungkin bisa diajadikan pelajaran, yaitu soal mengisi formulir. Meski semua orang pada dasarnya bisa mengisi apa yang diminta dalam formulir tetapi prakteknya tidak sedikit dari kita yang tidak mau dan tidak mampu, katakanlah di sini misalnya tinggi dan berat badan, berkacatama atau tidak, dan lain-lain. Bagi kita mungkin ini tidak penting tetapi bagi para pengambil keputusan,  bisa jadi ini penting. Ketika yang diminta itu kosong, pengambil keputusan biasanya tidak mau ambil pusing soal itu.  Lain soal jika jumlah pelamarnya sedikit.

Itu contoh kecil. Maksud saya, meski yang kita butuhkan adalah pekerjaan, tetapi hendaknya kita juga perlu memperbaiki perantara atau instrumen yang berlaku untuk mendapatkan pekerjaan itu. Perantara yang sangat penting di sini adalah seperangkat surat lamaran yang berisi antara lain: surat lamaran, CV atau resume, ijasah, sertifikat, dan lain-lain.

Kita perlu sadar bahwa meski semua orang bisa menulis surat lamaran, tetapi soal kualitas fisik dan isinya bermacam-macam. Ada yang baik, menarik, dan OK punya, tetapi ada yang terkesan asal-asalan. Tugas kita di sini adalah memperbaiki tampilan fisiknya dan isinya. Untuk ini, ada banyak cara dan petunjuk. Anda bisa membaca artikel tentang ini di website ini, bisa melihat di buku, bisa mencontoh dari orang-orang yang anda kenal. Intinya, jangan sampai menimbulkan kesan asal-asalan atau tidak lengkap.

2.      Perlu memperbanyak cara.

Dalam situasi yang sulit seperti ini, mungkin lebih tepat kalau kita menggunakan “Hukum Kemungkinan”. Artinya, semakin banyak cara yang kita tempuh, berarti semakin besar kemungkinannya. Semakin sedikit cara yang kita tempuh, berarti semakin kecil kemungkinannya. Sekedar untuk menyebutkan cara itu, misalnya: melalui iklan di media cetak, melalui iklan di media elektronik, on-line,  melalui pameran, melalui orang (jaringan), atau melalui perusahaan.

Saya ingin memberi catatan sedikit tentang dua cara yang terakhir. Sejauh yang selama ini kerap kita lihat, melamar pekerjaan melalui orang atau jaringan memang jauh lebih efektif dan efisien. Terlepas di situ ada KKN-nya atau tidak, tetapi cara ini akan menempatkan kita menjadi orang “khusus”. Konon, di Amerika yang tidak seruwet di kita dalam hal mencari kerja, 60 % para pekerja mendapatkan pekerjaan dari networking atau dari mulut ke mulut.

Yang menjadi soal adalah, bagaimana cara mendapatkan orang yang menolong kita itu? Ada tip sedikit yang bisa kita jalankan. Pertama, cara langsung. Anda bisa menanyakan langsung kepada orang yang sudah anda kenal seputar lowongan pekerjaan. Kedua, cara yang tidak langsung. Anda bisa menanyakan soal lowongan dari orang yang dikenal oleh orang yang anda kenal. Ketiga, memperbaiki dan memperjelas profile.

Bagaimana dengan melalui perusahaan jasa rekrutmen atau konsultan? Ini juga bagus. Saya kira sekarang ini sudah mulai banyak perusahaan yang bergerak di bidang rekrutmen, seleksi dan penempatan. Ada yang bisa pakai online, pakai sms, atau datang langsung. Khusus untuk penempatan dalam negeri, biasanya pihak perusahaan tidak meminta yang macam-macam dari pelamar selain seperangkat surat lamaran. Lain soal untuk yang di luar negeri.

3.      Perlu memperbanyak sasaran yang relevan.

Di era sekarang ini sudah banyak jenis usaha atau pekerjaan yang tidak ada sekolahnya atau yang tidak ada jurusannya, khususnya industri jasa. Karena itu, akan lebih tepat kalau kita tidak terpaku hanya melamar pekerjaan atau profesi yang sesuai dengan later belakang pendidikan. Asalkan ada keterkaitan dan anda tahu anda bisa, tidak ada salahnya juga anda mengajukan diri.

4.      Perlu memperbanyak sumber informasi

Sebagian besar informasi lowongan kerja itu tidak ter-publikasikan ke umum. Yang kita baca di koran, di majalah, di tempat-tempat umum itu hanya sebagian kecilnya saja. Karena itu dibutuhkan kemampuan mencari informasi yang baik. Untuk memiliki kemampuan ini memang mau tidak mau harus banyak membaca, bertanya, bergaul, menyelidiki, atau masuk komunitas tertentu.

5.      Perlu menambah keahlian yang supportive / yang relevan

Ini terkait dengan kecepatan. Kalau anda lulusan perhotelan dan anda juga punya penguasaan bahasa asing yang bagus, ini nilainya beda dengan ketika anda hanya tahu soal hotel. Akan lebih bagus lagi kalau anda juga tahu soal komputer, transportasi, dan lain-lain. Artinya, semakin banyak anda melengkapi keahlian utama dengan keahlian pendukung, semakin cepat anda mendapatkan pekerjaan. Langkah anda menjadi semakin luas. Inilah yang disebut dengan memperbaiki profile itu.

Yang tak kalah pentingnya di sini adalah memperkuat keimanan pada Tuhan. Ini salah satu masalah non-teknis yang perlu kita perbaiki. Keimanan terkait dengan sejauhmana kita sanggup melakukan upaya pencarian yang terus menerus sampai dapat.

Masalah-masalah Umum

Ada sejumlah masalah yang kerap muncul di lapangan dan ini perlu kita waspadai, antara lain:

1.      Terbujuk oleh rayuan yang tidak masuk akal. Ada sejumlah oknum yang ingin memanfaatkan keadaan sulit ini dengan cara memberi iming-iming pekerjaan yang bagus, gaji besar, dengan cara yang mudah, tanpa kualifikasi tertentu, tanpa proses bertele-tele, tetapi kita diminta untuk menyediakan sejumlah uang, sertifikat atau hal-hal lain di muka dengan  alasan yang tidak jelas. Meski kita bisa mengatakan ini aneh tetapi prakteknya kerap terjadi dan bahkan terang-terangan terjadi. Karena itu kita perlu waspada.

2.      Bergaul dengan orang yang setipe atau sederajat. Yang sering kita lakukan adalah bergaul dengan orang yang setipe masalahnya dengan kita. Karena kita sedang nganggur, kita pun bergaul dengan orang yang nganggur. Meski ini tidak berdosa dan baik-baik saja, tetapi untuk mendapatkan informasi yang bagus, maka kita perlu memperbagus pergaulan dan perkenalan. Akan lebih bagus lagi kalau kita memasuki pergaulan dengan orang-orang yang di atas kita secara prestasi (orang yang sudah bekerja)

3.      Termakan kesimpulan umum. Di masyarakat kita kerap muncul kesimpulan umum yang benarnya hanya sedikit tetapi kita menganggapnya sebagai kebenaran mutlak, semacam misalanya: yang S1 saja banyak yang nganggur, apalagi kamu hanya diploma atau SLTA, yang dari sekolah tehnik saja banyak yang nganggur, apalagi kamu jebolan sospol, yang dari PTN saja banyak yang nganggur, apalagi kamu dari PTS, dan lain-lain. Ini semua adalah contoh kesimpulan umum yang benarnya hanya sebagian. Dalam prakteknya, mendapatkan pekerjaan itu lebih mirip seperti orang main kartu di mana yang lebih sering menentukan kemenangan adalah “how to play”-nya.

4.      Hanya berhenti pada pekerjaan yang halal semata. Idealnya, tujuan dari perjuangan kita haruslah mendapatkan pekerjaan yang halal dan sekaligus pekerjaan yang bagus. Bagus di sini pengertiannya adalah menjadi lahan untuk mengaktualisasikan pengetahuan, pengalaman, keahlian atau kelebihan kita. Karena mencari pekerjaan itu sulit, akhirnya banyak dari kita yang hanya berhenti pada pekerjaan yang halal tetapi tidak mau menjadikannya sebagai jembatan untuk mendapatkan pekerjaan yang baik dan halal juga.

5.      Sedikit-sedikit ingin pindah karena alasan yang dangkal. Meski seluruh angkatan kerja baru itu punya keinginan yang menggebu-gebu untuk segera mendapatkan pekerjaan, tetapi prakteknya tidak seluruhnya siap secara lahir-batin mengikuti ritme dunia kerja. Dalam dunia kerja itu ada konflik, ada persaingan, ada hukuman dan ganjaran, dan lain-lain. Hal-hal semacam ini kerap dipahami sebagai sebuah kejadian luar biasa  yang hanya terjadi di kantor tempat kita bekerja dan tidak terjadi di tempat lain. Karena itu banyak yang memutuskan untuk berhenti saja atu ingin pindah saja sehingga tidak bisa konsentrasi. Pindah atau berhenti, itu hak kita, tetapi untuk perbaikan diri, hendaknya kita jangan pindah atau berhenti karena kita kalah oleh realitas  (lemah) atau menolak untuk belajar dari kenyataan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: