ECM E-kom Cyber Media

Carilah Ilmu Selagi Hayat Dikandung Badan

Arsip untuk ‘Tentang Pendidikan’ Kategori

Tips Bagi Seorang Guru, Dosen Dan Trainer

Ditulis oleh Eko di/pada Juli 18, 2008

Anda seorang guru, dosen atau pelatih? Mungkin, beberapa tips berikut akan bermanfaat bagi Anda. Mari kita lihat!

Tips #1: Kuasai Materi Secara Komprehensif
Penguasaan materi sanngat esensial untuk dapat melaksanakan tugas mengajar dengan baik dan menarik. Pasalnya kenapa? Ketika suatu ketika saya diminta berbicara tentang Training Needs Assessment oleh suatu lembaga, jujur saya tidak PeDe, walaupun mengetahui tentang training needs assessment. Tapi ketika saya mengajar mahasiswa tentang pengantar teknologi pendidikan, katakanlah. Kepercayaan diri tinggi, karena memang menguasai betul tentang hal tersebut. Jika kita menguasai secara komprehensif, tentu akan mampu memberikan contoh, analogi, ilustrasi yang beragam dan sesuai dengan konteks serta dapat menyesuaikan dengan latar belakang audiens.Coba kalau kita tidak benar-benar menguasai, wauah bakal keringet dingin. Betul, gak? Kunci pertama, menguasai materi.

Tips #2: Libatkan Peserta Secara Aktif
Ketika saya diminta untuk menjadi pembicara dalam suatu pelatihan, atau mengajar untuk suatu mata kuliah tertentu, hal pertama yang saya pikirkan adalah “Pengalaman belajar (aktifitas belajar) seperti apa saja yang harus saya siapkan agar peserta terlibat aktif.” Memikirkan strategi pembelajaran aktif seperti ini bukan perkara mudah, tapi secara kreatif mutlak kita lakukan atau. Pembelajaran tanpa melibatkan peserta belajar secara aktif, ibarat menabur garam di laut. Bahkan seorang orator ulungpun pada dasarnya telah berusaha mengaktifkan otak audiensya dengan berbagai cara sehingga terpukau (hypnoteaching). Ada ungkapan mengatakan bahwa, “We can teach fast, but they can forget it much more faster!”. Jadi, upayakan janga selalu terpaku pada ceramah atau mencekoki informasi saja.

Tips #3: Upayakan untuk Melakukan Interaksi Informal dengan Peserta
Kadang-kadang guyon, atau berbincang di sela-sela istirahat atau sebelum memulai materi sangat penting untuk mencairkan suasana. Dan tidak hanya itu, akan membangkitkan motivasi dan keterlibatan peserta dalam pembelajaran. Jangan sampai, sudah datang terlambat, langsung bicara, “Baik Bapak dan ibu sekalian, sesi ini kita akan ,……………”. Basa-basi, kalau perlu dengan guyon terutama diawal-awal memulai pembicaraan biasanya sangat ampuh. Saya biasa menyiapkan “ice breaker” yang lucu sebelum memulai pelatihan atau perkuliahan.

Tips #4: Beri Kesempatan Peserta Kewenangan dan Tanggung Jawab atas Belajarnya
Peserta akan termotivasi jika mereka diberi kewenangan untuk menentukan sendiri cara belajarnya. Saya, biasanya membangun komitmen atau aturan bersama sebelum memulai pelatihan atau perkuliahan. Dalam membangun komitmen atau aturan bersama ini, dibahas bebagai hal yang harus dilakukan dan apa yang tidak harus dilakukan, dimana keputusannya diambil bersama. Misalnya, bentuk tugas akhir mau seperti apa, apakah temanya bebas, atau tertentu dan lain-lain. Atau selama perkuliahan HandPhone harus seperti apa, dan lain-lain. Ternyata teknik seperti ini walaupun tidak ada hukuman, tapi karena disepakati bersama dan menjadi komitmen bersama akan sangat membantu, dengan catatan konsisten dilaksanakan bersama. Tentu saja ini adalah salah satu contoh upaya memberikan kewenangan kendali belajar kepada mereka.

Tips #5: Yakini Bahwa Manusi Belajar dengan Cara yang Berbeda Satu Sama lain
Dengan demikian, jangan perlakukan semua peserta dengan cara yang sama. Implikasinya adalah laksanakan tips 2 dan 4 di atas.

Tips #6: Yakinkan Peserta Bahwa Mereka Mampu
Mempersepsi sejak awal bahwa semua peserta atau mahasiswa kita adalah mampu, dan meyakinkan bahwa mereka mampu akan meningkatkan efektifitas pembelajaran. Motivasi belajar akan menurun ketika mereka merasa tidak mampu. Oleh karena itu, tips ke 5 di atas bisa diterapkan disini. dalam artian, jangan sampai memberikan kegiatan belajar yang tidak mungkin mampu mereka capai. Harus yakin bahwa tugas yang kita berikan memang bisa dilakukan dan mereka merasa puas dengan hasil yang telah dilakukannya.

Tips #7: Beri Kesempatan kepada Peserta untuk Melakukan sesuatu Secara Kolaboratif atau Kooperatif
Hal tersebut akan meningkatykan motivasi dan kemenarikan pembelajaran karena ada sedikit kompetisi, apalagi kalau mereka diberi kesempatan untuk saling berbagi ide, pengalaman, argumen secara bebas tanpa harus saling menjatuhkan satu sama lain.

Tips #8: Upayakan Materi yang Disampaikan Kontekstual
Guru atau dosen harus pandai pandai mengaitkan materi yang diajarkan dengan pengetahuan awal audiens atau peserta. Untuk orang dewasa, seperti dalam pelatihan, materi yang tidak relevan atau tidak ada kaitannya dengan kehidupan atau pekerjaan sehari-hari yang ia lakoni maka walaupun harus berbusa-busa kita bicara, tidak akan ada manfaatnya.

Tips #9: Berikan Umpan Balik Segera dan bersifat Deskriptif
Hal ini akan membantu mereka manyadari sudah sejauh mana perkembangan pemehaman atau penguasaan mereka terhadap pengetahuan, keterampilan atau sikap tertentu.

Tips #10: Tingkatkan Jam Terbang
Sebagai penutup, saya ingin mengatakan bahwa tidak ada yang bisa mengalahkan pengalaman. Sembilan tips di atas akan sempurna dengan senjata pamungkas nomor sepuluh ini.

Semoga bermanfaat )

(Sumber sebagian diambil dari “Principle of Effective Teaching and Learning, University of Toronto, 1990).

Ditulis dalam Tentang Pendidikan | Leave a Comment »

Tips Melatih Anak Tumbuh Cerdas

Ditulis oleh Eko di/pada Juli 18, 2008

Setelah membacakan cerita kesukaan anak, pertanyaan apa yang Anda berikan?
Katakanlah ceritanya tentang Puteri Salju. Pertanyaan yang digunakan kebanyakan adalah siapakah nama Putri? dimana ia tinggal? dan lain-lain. Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak mendorong kemampuan berpikir tingkat tinggi anak. PERCAYALAH!

Sebenarnya, kita dapat mengembangkan kecerdasan anak setiap saat, ketika mendampingi mereka bermain, mengajak ngobrol, makan bersama, menemani belajar dan lain-lain melalui teknik bertanya yang jitu. Bagaimana caranya?

Teknik bertanya, secara sederhana diklasifikasikan kedalam empat kategori:

  • Recall; yaitu pertanyaan-pertanyaan yang mengundang kemampuan mengingat. Sebagai contoh, dimanakah puteri paman petani tinggal? siapa nama Puteri Paman Petani? Apa ini, apa itu dna lain sebagainya.
  • Divergen; yaitu pertanyaan yang mengundang anak berpikir dan memecahkan suatu masalah. Bisanya diawali dengan kata bagaimana? Contoh: mainan kamu ada dibawah meja, menurut kamu bagaimana cara mengambilnya? Waduh, di luar gerimis. Bagaimana agar kita bisa keluar? Pertanyaan ini mengundnag jawaban yang bervariasi. Mungkin anak mengusulkan bawa payung, mungkin mengusulkan lari saja, pakai koran dan lain-lain. Pertanyaan seperti ini akan melatih anak untuk mampu memecahkan masalah.
  • Convergen; yaitu pertanyaan yang mengundang anak mengaitkan dua variabel tertentu atau lebih dan mengambil keismpulan. Biasanya diawali dengan kata mengapa atau kenapa? Contoh, meneruskan pertanyaan di atas, mengapa harus berlari? dan lain-lain.
  • Evaluatif; pertanyaan yang mengundang anak untuk memberikan penilaian dan mengambil keputusan. Biasanya terkait dengan baik atau buruk. Contoh: apakah baik kalau adik kita tinggal bersama si mba di rumah?

Dulu, ada anggapan bahwa pertanyaan-pertanyaan yang bersifat analisis, sintesis dan evaluatif tidak tepat untuk anak. Itu adalah pandangan yang keliru. Semuanya boleh baik untuk anak atau orang dewasa. Pokoknya di atas 2 tahun anak sudah bisa diajak bicara, apalagi tiga tahun ke atas, anak sudah dalam masa “concious mind” menurut Montessori, sudah bisa diajak dialog. Asal, tentu saja pertanyaannya yang kontekstual dan relevan dengan dunia anak sesuai umurnya.

Nah, pertanyaan untuk kita semua, porsi pertanyaan manakah yang sering Anda berikan untuk anak? apakah recall? sebaiknya kita biasakan bentur-benturkan kepala anak dengan pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya konvergen, divergen dan evaluatif. Biar kalo sudah besar nanti, bijak dalam mengambil kesimpulan, menilai sesuatu dan pandai dalam memecahkan masalah. Wah, kalo semua anak Indonesia terlatih seperti itu, Indonesia akan menjadi negara yang besar.

Ditulis dalam Tentang Pendidikan | Leave a Comment »

Rahasia Anak Yang Terabaikan

Ditulis oleh Eko di/pada Juli 18, 2008


Anak adalah makhluk yang unik, ia berkembang sangat lambat berbeda dengan binatang. Anak binatang dapat langsung berdiri dan berlari segera setelah dilahirkan. Anak kammbing, katakanlah. Ia bisa langsung berdiri dan berlari dalam waktu beberap menit setelah dilahirkan. Tapi, tidak dengan bayi manusia, sangat tidak berdaya dan membutuhkan waktu yang lama untuk mencapai suatu titik-titik perkembangan tertentu. Inilah yang disebut dengan masa sensitif (senitive periode) yang bersifat transitory dengan tujuan membantu organisme (dalam hal ini bayi) mencapai suatu fungsi atau karakteristik tertentu. (E.M. Standing, ”Maria Montessori: Her Life and Work”, hal. 119).

Rahasia Masa Kanak-Kanak
Montessori menulis tentang “Rahasia Masa Kanak-Kanak”. Apa maksudnya? Artinya, ada misteri yang harus senantiasa dipelajari dan dimengerti oleh orang dewasa pada masa kanak-kanak. E. M. Standing dalam bukunya, ”Maria Montessori: Her Life anda Work, mengutip ungkapan Montessori yang mengatakan bahwa, ”Selama periode tertentu anak memiliki kepekaan (sensitifitas) terhadap unsur tertentu yang memaksa dia untuk memfokuskan perhatiannya aspek tertentu dalam lingkunganya.”
Dengan demikian, perlakuan dan pemberian lingkungan yang tepat akan membantu masa perkembangan anak secara optimal. Dalam Education for A New World: The Clio Montessori Series, hal 31 – 37, Montessori menulis salah satu contoh rahasia tersebut adalah misteri bahasa. Bahasa adalah sesuatu yang kompleks yang bias dipahami atas kesepakatan komunal suatu masyarakat tertentu. Namun demikian, seorang bayi dibawah umur tiga tahun dpat memahami berbagai bahasa tertentu jika dia berada dalam lingkungan tersebut. Luar biasa….
Montessori mengatakan bahwa fisik dan psikologis anak berkembangan seperti “inkarnasi”, suatu dorongan misterius yang memungkinkan dia untuk berkembang, mengajari dirinya untuk bicara dan menyempurnakan diri. (Course Manual, Diploma in Montessori Method of Education, hal 32).
Oleh karena itu, terdapa masa atau periode tertentu yang memerlukan karakteristik lingkungan tertentu untuk membantu perkembangan anak secara keseluruhan. Ini yang disebut dengan periode sinsitif. Dengan mengetahui rahasia periode sensitif ini, orang dewasa dapat memfasilitasi lingkungan yang tepat atau relevan untuk membantu perkembangan anak secara optimal sesuai dengan tahap-tahap perkembangan yang seharusnya ia capai.
Montessori mengklasifikasikan periode sensitif tersebut kedalam enam kategori, yaitu:

· Sensitif/peka terhadap tata letak (tata urutan)

· Belajar melalui panca indera

· Sensitif/peka terhadap obyek kecil

· Sensitif/peka terhadap jalan

· Sensitif/peka terhadap bahasa

· Sensitif/peka terhadap inetraksi sosial

Kepekaan terhadap tata urut/letakKepekaan terhadap tata urut/letak ini muncul ketika umur satu tahun dan berlanjut hingga umur dua tahun. Contoh kepekaan terhadap hal ini adalah, anak menunjukkan kesenangan melihat sesuatu yang sudah familiar atau sering dilihatnya, anak cenderung meletakan sesuatu pada tempat semula, atau anak akan menangis atau memberontak ketika berada idtempat atau bertemu dengan orang yang belum familiar. Jika kepekaan terhadap hal ini kurang, maka anak akan cenderung tidak mampu mengarahkan dirinya dan cenderung merasa tida nyaman dan tidak memiliki kepercayaan diri.

Kepekaan terhadap Objek Kecil
Kepekaan terhadap obyek kecil muncul antara umur dua tahun sampai dua setengah tahun, Anak cenderung tertarik pada benda-benda kecil. Sebagai contoh, ketika berada di kebun, ia cenderung tertarik dengan sarang semut yang melingkar-lingkar atau mungkin lebih tertarik pada seekor kupu-kupu yang hinggap di salah satu daun dibandingkan dengan pemandangan di kebun itu sendiri. Kepekaan terhadap hal ini snagat penting karena akan membantu mengoptimalkan kemampuan observasi dan konsentrasi terhadap suatu situasi atau masalah tertentu. Lemah rangsangan dalam hal ini akan memperlemah rasa ingin tahu. Anak akan cenderung menajdi pasif, dan bukan pengamat yang baik.

Kepekaan Belajar dengan Menggunakan Panca InderaUntuk membantu perkembangan berpikir, anak harus dirangsang dengan suatu obyek yang dapat ia dengar, rasa, bau, cium dan lihat. Lemah dalam hal ini akan cenderung membuat anak jadi pemberontak, kurang konsentrasi, bahkan akan cenderung membuat anak tidak mampu membuat suatu penilaian dan pengambilan keputusan yang tepat.

Kepekaan Terhadap Koordinasi Gerak (Berjalan)
Umur 2,5 – 4 tahun adalah masa-masa dimana anak peka terhadap rangsangan berupa koordinasi gerak (khususnya berjalan). Kepekaan terhadap gerak disini maskudnya adalah bagaimana anak mengarahkan tubuhnya sesuai dengan keinginannya. Dalam kondisi ini, anak akan terasah dalam mengendalikan koordinasi gerak kea rah yang lebih terkendali. Rangsangan sejak dini dengan memberikan lingkungan yang tepat sangat penting untuk meningkatkan kepekaan motorik halus dan kasar anak. Lemah dalam rangsangan ini akan memungkinkan anak tidak memiliki konsep diri yang baik dimasa yang akan datang.

Kepekaan terhadap Bahasa
Masa peka terhadap bahasa pada anak terjadi antara umur 1,5 – 3 tahun. Bayi akan mulai menirukan suara/ucapan yang ia dengar. Bayi mendengar segala jenis suara, melodi, gonggongan anjing dan lain sebagainya yang semuanya akan terekam dalam otaknya. Jika anak tidak dirangsang dengan baik dalam hal bahasa selama periode ini, ia tidak akan memiliki esnsistifitas bahasa yang kuat. Konsekuensinya anak akan mengalami ketidak percayaan diri dan konsep diri yang rendah karena ketidak mampuannya untuk mengekspresikan diri dengan bahasa tentunya.

Kepekaan terhadap Aspek Sosial
Antara umur 2.5 – 6 tahun adalah masa peka anak dalam hal berinteraksi sosial. Pada masa itu anak sudah mulai bisa berkomunikasi bahkan dengan sesama anak seumurnya. Pada awalnya anak biasanya bermain sendiri (solitary) dan atau bermain paralel, dengan rangsangan melalui interaksi sosial akan mendorong mereka memahami afeksi dan persahabatan. Artinya, dengan kondisi seperti ini anak akan belajar untuk menjadi bagian dari suatu kelompok. Lemah dalam rangsangan ini memungkinkan anak menjadi pasif, penyendiri, tidak ramah, bahkan bisa jadi menjadi antisosial.

Inilah rahasia masa kana-kanak yang seharusnya dimengerti oleh orang dewasa. Penjelasan di atas menunjukkan bahwa pada masa-masa tertentu anak memiliki kepekaan terhadap hal tertentu. Dengan mengetahui kepekaan-kepekaan tersebut, orang dewasa dapat menciptkan lingkungan dan perlakuan yang tepat agar perkembangannya optimal.

”Absorbent Mind”
Pada periode awal sampai umur enam tahun adalah masa dimana otak anak bagaikan ”busa (spon)” yang dapat menyerap air. Semakin banyak busa tersebut dicelupkan kedalam air maka semakin banyak air yang ias serap. Demikian pula halnya dengan anak, semakin banyak ia dirangsang untuk berinteraksi dengan lingkungannya, maka semakin banyak pengalaman yang ia serap dan tersimpan dalam otaknya.

Jadi, yang dimaksud dengan ”absorbent mind” adalah proses dimana anak memperoleh pengetahuan sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya. Proses ”absorbent mind”, menurut Montessori dapat dikelompokkan kedalam dua kategori, yaitu:
Pikiran tidak sadar (unconcious mind), terjadi pada umur 0 – 3 tahun; dan
Pikiran sadar (concious mind), terjadi pada umur 3 – 6 tahun.

Pikiran Tidak Sadar (Unconcious Mind)
Umur 0 – 3 tahun adalah masa dimana anak menerima atau menyerap rangsangan apapun dari lingkungannya tanpa ia sadari. Pikirannya belum terbentuk, hanya menerima atau menyerap saja. Jadi anak mulai dari nol, tanpa bekal pengetahuan apapun. Beginilah cara anak membangun pengetahuan yang dimulai secara tidak sadar melalui penyerapan terhadap apapun kesan yang ia terima dri lingkungannya, kemudian pelan-pelan ia membangun/mengumpulkan ingatan yang lama kelamaan semakin banyak. Ketika umur tiga tahun, bekal pengetahuan yang diperolehnya secara tidak sadar ini akan menjadi fondasi bagi dirinya untuk memahami secara sadar. Dengan kata lain, sebelum umur tiga tahun fungsi berpikir anak diciptakan, dan mulai berkembang setelah umur tiga tahun ke atas.
Oleh karena itu, pada masa ini adalah penting bagi orang dewasa untuk merangsang anak sedemikian rupa dengan semenarik mungkin. Dengan demikian ia akan terbekali memori yang cukup untuk dapat secara sadar membangun pengetahuan yang akan ia alami setelah umur tiga tahun (Maria Montessori, ”Absorbent Mind: from unconcious creator to concious worker”, hal 165 – 170. Kurangnya rangsangan sejak umur 0 – 3 tahun ini, akan menghambat kemampuan berpikir anak di masa mendatang.

Pikiran Alam Sadar (Concious Mind)
Berbekal pengetahuan atau memori yang telah diserap secara tidak sadar selama 0 – 3 tahun, sejak umur 3 – 6 tahun anak mulai membangun pengetahuannya secara sadar. Masa ini dikenal juga dengan masa membangun diri (self-construction). Pada masa ini, terjadi secara sadar, karena ia telah memiliki banyak memori dan sudah punya keinginan.
Pada masa ini, karena ia punya keinginan dan melakukan sesuatu (work) maka ia menjadi sadar dan mengembangkan kemampuan dirinya dengan menggunakan tangan. Ia mulai belajar menulis, membaca, memahami dasar-dasar numerik dan hal lain secara spontan.

Kesimpulan

· Anak memiliki rahasia yang seharusnya dipahami oleh orang dewasa dan diaplikasikan dalam pendidikan. Rahasia tersebut adalah adanya masa-masa peka (sensitive period) terhadap rangsangan tertentu yang akan membantu perkembangan mereka seara optimal sesuai dengan tahapan perkembangannya. Masa-masa peka tersebut adalah (1) kepekaan terhadap tata urut atau tata letak; (2) kepekaan belajar dengan menggunakan panca indera; (3) kepekaan terhadap koordinasi gerak; (4) kepekaan terhadap obyek-obyek kecil; (5) kepekaan terhadap bahasa; dan (6) kepekaan terhadap interaksi sosial. Lemah dalam rangsangan yang tepat sesuai karakteristik kepekaan-kepekaan tersebut akan menimbulkan hambatan terhadap perkembangan anak dimasa yang akan datang seperti lemahnya konsep-diri, lemahnya kepercayaan diri, lemahnya kemampuan observasi dan pengambilan keputusan, ketidak mampuan mengarahkan diri, dan lain-lain.
Masa antara 0 – 6 tahun dalam masa menyerap (absorbent mind). Umur 0 – 3 tahun anak secara tidak sadar menyerap kesan apapun yang ia terima dari lingkunganya. Umur 3 – 6 tahun, berbekap memori yang diterimanya sejak 0 – 3 tahun, anak sudah mulai bisa secara sadar membangun pengetahuan. Masa ini dikenal pula dengan istilah masa konstruksi diri (self-construction).

Ditulis dalam Tentang Pendidikan | Leave a Comment »