ECM E-kom Cyber Media

Carilah Ilmu Selagi Hayat Dikandung Badan

Arsip untuk ‘Tanpa Kategori’ Kategori

Selatpanjang Selayang Pandang

Ditulis oleh Eko di/pada Juli 23, 2008

IBU KOTA : SELATPANJANG
Luas                  : 849, 50 Km2
Penduduk : 76.763
Kelurahan          : 4
Desa                  : 12
Suhu Max/ Min : 24oC / 22oC

BATAS KECAMATAN

Sebelah Utara berbatasan dengan Kec. Rangsang & Kec. Rangsang Barat
Sebelah Selatan berbatasan dengan Selat Panjang
Sebelah Barat berbatasan dengan Tebing Tinggi Barat
Sebelah Timur berbatasan dengan Kec. Rangsang & Selat Air Hitam

LETAK WILAYAH KECAMATAN

102°37′2” Lintang Utara s/d 102°3′22” Lintang Utara
0°41′4” Bujur Timur s/d 1°00′29” Bujur Timur

PENDUDUK


Jumlah penduduk di Kecamatan tebing tinggi berjumlah  72.190 orang
terdiri dari :
Laki – laki : 36.896 orang
Perempuan : 35.294 orang
Sedangkan jumlah keluarga di kecamatan tebing tinggi ada 15.118 keluarga

PERTANIAN TANAMAN PANGAN

Luas panen tanaman bahan makanan hingga September 2007 diantaranya luas panen ; padi sawah 414 ha; sedangkan Produksi padi sawah dikecamatan tebing tinggi 1.005,34 ton; ketela pohon 286,44 ton; jagung 20,40 ton.

PERKEBUNAN

Luas area tanaman perkebunan rakyat dikecamatan tebing tinggi yaitu untuk tanaman karet 1.794 ha ; kelapa 2.996 ha; sagu 23.856 ha; sedangkan Produksi tanaman perkebunan rakyat diantaranya karet 8.391 ton ; kelapa 645 ton; sagu 233.625 ton;

PERIKANAN

Produksi perikanan pada kecamatan tebing tinggi hasil tangkapan ikan laut 39.40 ton

PERDAGANGAN

Nilai ekspor di kecamatan tebing tinggi melalui pelabuhan selat panjang hingga juni 2007 mencapai 8.468.355 US $. Nilai import di kecamatan tebing tinggi melalui pelabuhan selat panjang hingga juni 2007 mencapai 158.556 US$

Ditulis dalam Tanpa Kategori | Leave a Comment »

Check out my Guestbook!

Ditulis oleh Eko di/pada Mei 16, 2008

Ditulis dalam Tanpa Kategori | Leave a Comment »

Ujian Nasional 2008

Ditulis oleh Eko di/pada April 21, 2008

Pemerintah telah menetapkan bahwa Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN) untuk SD/MI/SDLB tahun pelajaran 2007/2008 akan dilakukan pada minggu ketiga bulan Mei 2008. Penetapan ini melalui PERMEN No 39 Tahun 2007, tanggal 16 November 2007. Acuan penyelenggaraan secara rinci diberikan pada POS UASBN. Mata pelajaran yang diujikan adalah:

  • SD/MI/SDLB (13-15 Mei 2008) – Bahasa Indonesia, Matematika, dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).

Pemerintah telah menetapkan bahwa Ujian Nasional (UN) untuk SMP/MTs/SMPLB, SMA/MA/SMALB dan SMK tahun pelajaran 2007/2008 akan dilakukan pada minggu keempat bulan April 2008. Penetapan ini melalui PERMEN No 34 Th 2007, tgl 5 November 2007. Acuan penyelengggaraan secara rinci diberikan pada POS UN. Mata Pelajaran yang diujikan adalah:

  • SMP/MTs/SMPLB (5-8 Mei 2008) – Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).
  • SMA/MA (22-24 April 2008)
    • IPA – Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, Fisika, Kimia, dan Biologi.
    • IPS – Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, Ekonomi, Sosiologi, dan Geografi.
    • Bahasa – Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, Bahasa Asing lain yang diambil, Sejarah Budaya (Antropologi), dan Sastra Indonesia.
    • Program Keagamaan – Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, Ilmu Tafsir, Ilmu Hadis dan Tasawuf/Ilmu Kalam.
  • SMALB (22-24 April 2008) – Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika.
  • SMK (22-24 April 2008) – Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika dan Kompetensi Keahlian Kejuruan.

Kisi-kisi UASBN tahun 2008 untuk SD/MI dan SDLB: Kisi kisi UASBN Tahun 2008.

Disunting dari : www.bsnp-indonesia.org

Ditulis dalam Tanpa Kategori | Leave a Comment »

BOS Tunggu Usulan Kabupaten/Kota

Ditulis oleh Eko di/pada April 14, 2008

PEKANBARU – Setelah penyaluran dana Bantuan Operasional (BOS) tahun 2008 triwulan I (Januari-Maret) tuntas, kini tim pengelola provinsi tengah menyiapkan penyaluran triwulan II (April-Juni). Surat pun sedang disiapkan untuk tim pengelola kabupaten/kota agar segera mengajukan usulan.
“Kita sedang mempersiapkan surat untuk kabupaten/kota agar mereka segera mengajukan usulan penerimaan BOS triwulan II. Sesegera mungkin surat itu akan kita kirim,” ujar Ketua Tim Menejemen BOS Provinsi Riau, Dra Rahma Masniari saat dijumpai Metro Riau, akhir pekan lalu di ruang kerjanya.
Dikatakan, kendati pada triwulan I lalu, kabupaten/kota telah mengajukan usulannya, namun sesuai dengan ketentuan usulan tetap dilakukan setiap triwulan. Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi adanya kemungkinan jumlah penerima berubah. Baik bertambah maupun berkurang. Karena dana BOS disalurkan ke sekolah dihitung per siswa.
Rahma menyebutkan, sama seperti triwulan I lalu, alokasi dana BOS untuk triwulan II adalah sebesar Rp64 miliar lebih. Namun dari alokasi yang ada itu, menurut Rahma, bisa saja berkurang atau bahkan berlebih. “Dana BOS kita salurkan berdasarkan angka riil yan diajukan kabupaten/kota,” sebutnya.
Rahma menargetkan pertengahan triwulan II atau sekitar bulan Mei, dana BOS itu sudah disalurkan ke sekolah. Itu pun tergantung dari tim pengelola kabupaten/kota. “Makin cepat mereka mengirimkan usulannya, maka makin cepat pula kami memposesnya,” tegas Rahma.*

Ditulis dalam Tanpa Kategori | Leave a Comment »

Tunjangan Guru Riau Rp 91 M

Ditulis oleh Eko di/pada April 14, 2008

PEKANBARU – Pemerintah terus berupaya meningkatkan kesejahteraan guru. Untuk mewujudkan itu, tahun ini pemerintah pusat mengalokasikan anggaran sebesasr Rp91.057.400.000 untuk tunjangan guru di Riau yang berstatus PNS dan non PNS.
Demikian dikatakan Kadisdik Riau HM Wardan MP saat dijumpai Metro Riau usai membuka sosialisasi program peningkatan mutu dan profesionalisme guru, Kamis (10/4) di Hotel Furaya Pekanbaru. Menurutnya, dana itu merupakan dana dekonsentrasi yang dikelola langsung oleh Dinas Pendidikan Riau. “Guru adalah aktor penting dalam proses pembangunan pendidikan. Jadi bukanlah satu hal yang berlebihan jika pemerintah memberikan perhatian ekstra untuk mereka,” ungkap Wardan.
Wardan menyebutkan, pemberian tunjangan ini merupakan implementasi dari UU Nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen. Di dalam produk hukum tersebut diamanhkan bahwa seorang guru berhak mendapatkan berbagai macam tunjangan. Antara lain, tunjangan fungsional bagi guru non PNS, tunjangan profesi, tunjangan akhir masa bakti, tunjangan peningkatan kualifikasi D4/S1 dan tunjangan kesejahteraan guru di daerah khusus.
Untuk merealisasikan berbagai macam tunjangan itu, menurut Wardan, diperlukan kerjasama yang baik antara Disdik dengan pihak-pihak yang terlibat langsung dalam pendataan guru-guru di kabupaten/kota. “Kita sangat berharap dukungan penuh dari kabupaten/kota untuk merealisasikannya. Mengingat dana itu sangat dibutuhkan guru-guru kita,” pinta Wardan. *

Ditulis dalam Tanpa Kategori | Leave a Comment »

Renungan Untuk Guru

Ditulis oleh Eko di/pada April 14, 2008

GURU, dalam kamus kehidupan, adalah pemberi “senjata dasar” kehidupan kita. Anda seorang pejabat,dosen, wartawan, pengusaha, maling atau koruptor, yang menjadi melek segalasesuatu, pada awalnya berkat jasa guru. Bahwa kreativitas dan jiwa inovator yangmembedakan perkembangan individual, ya. Tapi, “ilmu” didapat dariguru.

Tidak eloknya, secara berjamaah, sadar atau tidak, kita tega nian berpersepsi, memberi gambaran memilukan. Guru berbaju safari tua kusam, bersepeda kumbang dengan kacamata tebal dan tas lusuh. Terpopuler sebagai “Oemar Bakry”, karikaturis berbau penghinaan terhadap profesi yang sangat mulia, Si Pendidik. Sepanjang sejarah republik ini, citra guru adalah citra manusia yang terlantar dan ditelantarkan. Guru adalah profesi yang tidak menjanjikan secara materialistis tetapi sangat diperlukan.

Dalam kehidupan sehari-hari dengan sangat mudah kita jumpai pejabat, tenaga administratif atau birokrat pendidikan yang “kerjanya” memudahkan pekerjaan profesional guru dalam menunjang peningkatan kulitas pendidikan, peningkatan sumberdaya manusia (SDM). Orang-orang yang bertugas “membantu” pekerjaan guru. Tapi, kita lebih sering mendengar dendangan nyanyian lagu-lagu indah meninibobokan guru, formal ataupun informal, berkoor (seolah-olah) memperhatikan nasib guru.

Ditabalkan pula dengan organisasi semacam PGRI, hasilnya hanya satu: Nasib guru tetap memprihatinkan. Pertanyaannya: apa hasil kerja mereka-mereka yang langsung mampu memperbaiki nasib guru?. Guru tetap saja dalam gambaran karikaturis “Oemar Bakry”. Guru kehidupannya begitu-begitu saja, dan … masih saja mengantungkan nasibnya kepada mereka-mereka yang sebenarnya tidak pernah berhasil memperjuangkan nasib guru. Lalu, dimana letak kemampuan guru belajar dari kenyataan? Langkah nyata apa yang dilakukan guru dalam memperbaiki kedudukan dan nasibnya? Entahlah. Hanya para guru yang mampu menjawabnya.

“Membantai” Guru
Ketahuilah, keseluruhuan pejabat, pebisnis, orang berpunya, mereka yang terhormat atau gila hormat, apalagi pengambil kebijakan tentang pendidikan, birokrat pendidikan, menjadi pandai atau bisa mencapai kedudukan sosial mapan, tidak terlepas dari jasa guru-gurunya. Dapat dipastikan, pejabat, pengusaha, birokrat pendidikan atau siapa saja yang bisa membaca, menulis, dan berhitung, menjadi pandai karena jasa guru. Gurulah yang menjadikan seseorang menjadi orang melek, mengembangkan potensi dirinya.

Cobalah renungkan untaian kata-kata saya berikut. Pernahkan Anda mendatangi guru SD Anda yang dengan segala ketabahan, ketekunan dan kesabaran menuntun mengeja huruf a, b, c dan seterusnya?. Memangnya Anda bisa lancar menghitung angka 1, 2, 3, 4 atau merangkai huruf-huruf jadi kata-kata, angka-angka berpangkat dan menghasilkan uang untuk kesuksesan tanpa bantuan guru?. Pernahkan sowan ke Guru SD, SMP, SMU atau mengunjungi sekolah tempat pian dididik hingga jadi orang pintar?

Anda tidak usah bercerita, membantu sekolah Anda dahulu, sebab kalau itu dilakukan semua orang, pastilah sekolah-sekolah kita menjadi tempat terbagus. Bukan tempat dimana bangunannya hampir roboh atau lingkungannya memprihatinkan dengan fasilitas, sarana dan prasarana, membuat air mata tidak ada artinya. Banyak orang hanya mengambil dari guru dan sekolah, tidak kalau memberi. Bobroknya sarana dan prasarana pendidikan, dipastikan karena memang kita kurang peduli.

Atau, coba renungkan, ketika seorang guru dengan kesederhanaan dan keluguan mengurus KTP atau keperluan lannya, misalnya, Anda bentak-bentak sembari meminta duit yang didapat dengan jerih payah mengajar yang sangat sedikit?. Apakah Anda tidak akan dikutuk Allah SWT manakala tega-teganya meminta sejumlah uang dengan berbagai alasan ketika Sang Guru mengurus kenaikan pangkatnya? Sudah gajinya kecil, jangankan dipermudah, tetapi justeru harus “dijebak” untuk membayar. Adakah kira-kira manusia yang lebih kejam dari itu?. Kalau Anda pernah melakukan hal-hal sedemikian, bertobatlah, sebelum Allah SWT mengambil nyawa Anda.

Sekali lagi, coba renungkan, ketika Anda sudah jadi orang, apakah bos tingkat rendah atau puncak, pegawai bank atau wartawan, birokrat pendidikan, tamatan SD atau S3, atau maling sekalipun, pernahkah mendatangi guru yang telah membuat Anda pintar? Pernahkan Anda datangi sekolah tempat belajar dulu yang mungkin kini sudah hampir roboh? Pernahkan membantu sekolah Anda tersebut setelah hidup berkelayakan?

Mungkin Anda telah mencapai jenjang akademis tertinggi atau mempunyai rumah –-dua sampai empat— punya mobil, sering berseminar di hotel atau melakukan kunjungan kerja di banyak kesempatan, sementara orang yang membuat Anda pintar masih terseok-seok mengajar anak-anak atau cucu Anda, masih berkehidupan seperti ketika mendidik Anda dulu. Apa yang pernah Anda kontribusikan terhadap orang yang menjadikan Anda manusia pintar?.

Kalau Anda tidak pernah bersilaturrahmi dengan guru SD, SMP, SMU atau PT, tidak pernah membantu sekolah tempat belajar dulu, baik secara pribadi, apalagi ketika Anda mempunyai kewenangan untuk berpihak kepada guru dan pendidikan, ketika Tuan punya kewenangan tetapi justeru mengambil keuntungan untuk menumpuk harta, maka jangan harap bangsa ini akan maju. Peningkatan SDM akan menjadi retorika belaka.

Lebih fatal, jangan-jangan kalau kita berprilaku sedemikian, sadar atau tidak, kita telah terjerembab menjadi manusia durhaka, manusia yang tidak tahu berterima kasih, manusia yang lupa kacang pada kulit. Lebih sadis, kalau kita mengabaikan guru, melecehkan ketika dia berurusan, meminta duit ketika dia mengurus haknya atau mencelakan profesianya dengan berbagai alasan, kita akan menjadi manusia terkutuk, manusia “pembantai” guru. Naauzubillahi min zaliq.

Proyek Milyaran
Kebetulan, saya dipilih sebagai Ketua Komite di dua SD, SDN Jawa 2 Martapura dan SDN Sungai Besar 2 Banjarbaru. Di kedua sekolah tersebut, saya pernah didatangi orang tua siswa sembari bersemangat 45 memberi kuliah, ”Pak Ersis, guru-guru kita ini bagaimana? Tiap semester, anak-anak kita disuruh membeli buku. Ini proyek guru. Tidak boleh dibiarkan”.

Mula-mula saya telan saja kuliah bagus tersebut. Setelah melakukan riset kecil-kecilan, memang ada guru yang menjual buku seharga Rp.30.000,00 (tiga puluh ribu). Dan … mendapat komisi 10% alias Rp.3.000,00 (tiga ribu rupiah) per buku. Dikalikan 30 siswa, guru mendapat keuntungan Rp.90.000,00 per semester. Uang sebegitu, memang bisa dibilang banyak bisa pula dibilang sedikit.

Tapi, saya bilang, bagaimana kalau kita berjamaah saja menyumbang untuk guru anak-anak kita secara ikhlas Rp.3.000,00 per semester, apa salahnya? Terlalu berlebihan menuduh guru korupsi atau menyalahgunakan kewenangan. Saya setuju itu tidak dibolehkan, tetapi harus ada solusinya. Toh, di toko buku harganya juga segitu. Memberi untung toko buku tidak keberatan, guru yang menjadikan anak sendiri pintar, ribut. Apa-apaan.

Ketika saya katakan, “OK. Guru kita larang menjual buku, tapi … mari kita membelikan buku-buku pelajaran yang disimpan di pustaka hingga semua keperluan buku tersedia”. Ajaibnya, begitu gagasan itu saya utarakan, tidak ada komentar lagi.

Lebih jauh, coba kita berpikir lebih rasional. Milyaran rupiah dianggarkan Depdiknas untuk penyediaan buku-buku pelajaran di sekolah. Pengusaha berebutan, birokrat pendidikan sibuk mengurusnya. Coba datangi sekolah-sekolah, dari milyaran rupiah proyek pencetakan buku tersebut, berapa biji sih yang ada di sekolah? Sangat sedikit. Kemana perginya? Mana saya tahu, emangnya gue ngurusin.

Harusnya yang model begini yang dilawan, koran-koran “menghajar” hingga yang menculasi pendidikan itu kapok. Setidaknya, dimengerti untuk apa dan siapa, atau kemana saja sih distribusi proyek milyaran rupiah tersebut. Guru-guru juga pada lucu deh, diam aja. Silent is golden, kali ya.

Menangislah untuk Guru
Mengakhiri artikel ini, suatu kali, seselesai sholat malam, cobalah luangkan waktu barang 10 menit untuk merenungi nasib guru, nasib pendidikan kita. Mana tahu, urat malu kita tersentuh, bahwa selama ini kita kurang peduli terhadap guru dan pendidikan. Kalau membeli rokok Rp.7.000,00 per bungkus sehari, artinya sebulan Rp.210.000,00 tidak keberatan, tapi kalau membayar iuran Komite Sekolah, Rp.20.000,00 sebulan, untuk membantu pendidikan anak-anak kita, kita gusar. Alasan-alasan rasional dan bak pendekar Pedang Emas mengeluarkan statemen hebat-hebat di koran, di warung kopi atau meja seminar, sembari teriak nyaring-nyaring: “Pendidikan gratis”. Emangnya Tuhan menurunkan uang dari langit untuk membiayai pendidikan.

Kalau melihat kekurangan di sekolah berbagai sumpah serapah dimuntahkan. Komite Sekolah tidak becus, pemerintah pelit, tidak ada perhatian, pejabat mencuekkan pendidikan (walaupun ada benarnya), tapi mbok ya, kalau membeli empat ban mobil, anggap membeli lima, satu sumbangkan ke sekolah. Kalau Dewan Pendidikan mau melakukan kunjungan kerja, jangan mau ikut, biayanya sumbangkan ke sekolah.

Kalau Anda Anggota Dewan atau Kepala Bagian atau Kepala Dinas, bilang sama pimpinan, “Pak tahun tahun ini saya ditugaskan ke Jakarta 3 kali saja ya, yang sekali biayanya serahkan kepada sekolah”. Kalau sebulan empat kali ke karaoke, ke salon atau main golf, ya kenapa garang kalau 3 kali saja, yang sekali sumbangkan ke sekolah.

Nah, kalau saya, mungkin tidak bisa membantu guru secara materi hebat-hebat, tapI berdoa untuk pian Pak ai. Saya menulis pertanda simpati, dan … Inysa Allah akan terus berjuang untuk guru dan pendidikan sesuai kemampuan, ya menulis. Saat ini simpati saya hanya simpati tangis, maukah pian menerima?. Itulah sumbangan terlemah dari orang yang sangat sangat bersimpati.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Ditulis dalam Tanpa Kategori | Leave a Comment »

Nasib Guru dan Dosen

Ditulis oleh Eko di/pada April 14, 2008

Media Indonesia,
SUDAH lama menjadi keluhan bahwa bangsa ini tidak menghargai guru. Profesi yang bertanggung jawab mendidik anak bangsa ini dibiarkan bergaji rendah, kesejahteraannya buruk, dan cukup diberi gelar pahlawan tanpa tanda jasa.
Pemerintah rupanya ingin mengakhiri semua yang buruk itu. Maka, dibuatlah Rancangan Undang-Undang tentang Guru dan Dosen, yang naskahnya sedang dibahas di DPR. Targetnya pada 25 November 2005 RUU itu disahkan menjadi undang-undang.
Mengapa terburu-buru? Jawabnya, karena dalam Pasal 22 RUU itu, 25 November ditetapkan sebagai Hari Guru Nasional. Jadi, ada momentum seremonial untuk membuatnya agak “keramat”.
Dan untuk mengejar 25 November itu, sangat dikhawatirkan, kritik masyarakat atas isi RUU itu tidak digubris sama sekali. Kritik yang terpokok ialah RUU ini dengan sengaja membuat diskriminasi. Guru dan dosen negeri merupakan warga negara kelas satu, sedangkan guru dan dosen swasta adalah warga negara kelas kambing.
Misalnya, pemerintah wajib mengalokasikan gaji guru dan dosen negeri dalam APBN (Pasal 14 ayat 1). Sedangkan besaran gaji guru dan dosen swasta dibiarkan mengambang dengan bahasa yang sangat longgar tanpa kewajiban, yaitu sedapat mungkin mengacu ke gaji pokok dan tunjangan profesi guru dan dosen negeri (Pasal 13 ayat 1). Artinya jika tidak dipenuhi, tidak soal, alias tidak melanggar undang-undang.
RUU ini pada dasarnya memang tidak melindungi dan tidak mengangkat martabat guru dan dosen swasta. Napas RUU ini adalah menyamakan guru dan dosen swasta seperti buruh kontrak umumnya, yaitu berdasarkan perjanjian kerja. Jaminan sosialnya juga sesuai jaminan sosial tenaga kerja umumnya. Jadi, tak ada kelebihan guru dan dosen swasta sekalipun RUU ini membahasakan guru dan dosen sebagai profesi.
Undang-undang dibuat untuk terciptanya keadilan. Karena itu, mestinya tidak ada secuil pun pikiran untuk membuat undang-undang yang diskriminatif. Tapi, itulah yang terjadi dengan RUU Guru dan Dosen, yang lebih melindungi guru sebagai pegawai negeri dan bukan guru sebagai profesi. Karena itu, judul RUU ini mestinya ditambah dengan predikat khusus, menjadi RUU tentang Guru dan Dosen Pegawai Negeri.
Yang juga menyedihkan ialah Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) setuju saja dengan RUU ini dan berkeinginan kuat agar 25 November ini disahkan. Dengan gampangnya, PGRI berpendapat soal nasib guru dan dosen swasta itu kelak bisa diatur dalam peraturan pemerintah.
Jawaban yang jelas membuat nasib guru dan dosen swasta dipinggirkan. Kelasnya dibuat lebih rendah, cukup diatur dengan peraturan pemerintah. Maka, jika jadi disahkan, inilah undang-undang yang akan membuat marah para guru dan dosen swasta.

Ditulis dalam Tanpa Kategori | Leave a Comment »

Selamat Datang

Ditulis oleh Eko di/pada Maret 14, 2008

Selamat datang di E-kom Cyber Media

HARI PENDIDIKAN NASIONAL

ing ngarso sung tulodo — di depan memberi teladan
ing madyo mangun karso — di tengah membangun karya
tut wuri handayani — di belakang memberi dorongan

Itulah tiga kalimat dari ajaran seorang ningrat Raden Mas Soewardi Soerjaningrat yang kemudian mengganti nama menjadi Ki Hadjar Dewantara. Pelopor Perguruan Taman Siswa ini kemudian diangkat menjadi Bapak Pendidikan Nasional dan hari lahirnya 2 Mei (1889) diabadikan menjadi Hari Pendidikan Nasional oleh pemerintah pada tahun 1959.

Tidak hanya dalam bidang pendidikan nasional Ki Hadjar Dewantara pun sebelumnya aktif dalam masa pergerakan nasional di dalam organisasi Boedi Oetomo pada tahun 1908 dan Indische Partij pada tahun 1912. Sebuah momen yang kita kenal menjadi Kebangkitan Nasional, dirayakan setiap 20 Mei. Bahkan pada tahun 1913 beliau secara politik aktif dalam menentang Perayaan Seratus Tahun Belanda dari Prancis melalui Komite Bumiputra. Ditentangnya perayaan tersebut adalah karena pihak Belanda memeras rakyat untuk kepentingan perayaan tersebut. Salah satu ucapannya yang ditulis dalam koran Douwes Dekker de Express adalah bertajuk Als Ik Eens Nederlander Was –Seandainya Aku Seorang Belanda–

Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang kita sendiri telah merampas kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu.
Pikiran untuk menyelenggarakan perayaan itu saja sudah menghina mereka dan sekarang kita garuk pula kantongnya. Ayo teruskan penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda. Apa yang menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku terutama ialah kenyataan bahwa bangsa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu pekerjaan yang ia sendiri tidak ada kepentingannya sedikitpun.

Akibat tulisan tersebut beliau dibuang tanpa proses pengadilan ke Pulau Bangka oleh Gubernur Jendral Idenburg, namun atas tulisan Douwes Dekker dan Cipto Mangoenkoesoemo hukuman tersebut berganti menjadi dibuang ke negeri Belanda.
Sepulang dari pengasingan di Belanda –yang beliau gunakan juga untuk memperdalam ilmu– ia pun mendirikan sebuah perguruan yang bercorak nasional, Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa –Perguruan Nasional Tamansiswa– pada 3 Juli 1922. Perguruan ini sangat menekankan pendidikan rasa kebangsaan kepada peserta didik agar mereka mencintai bangsa dan tanah air dan berjuang untuk memperoleh kemerdekaan.

Dari sinilah lahir konsep pendidikan nasional, hingga Indonesia merdeka Ki Hadjar Dewantara pun menjadi Menteri Pendidikan dan meninggal pada 28 April 1959 di Yogyakarta

MUSIM UJIAN TELAH TIBA

Musim Ujian Semester II dan Ujian Akhir Sekolah telah tiba, inilah saatnya siswa-siswi SD, SMP, SMA maupun SMK mempersiapkan diri lebih matang agar dapat melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi. Bagi siswa SD, SMP dan SMA inilah saatnya anda membuktikan apakah anda berhasil atau tidak dalam menempuh ujian yang sebentar lagi akan dilaksanakan, jika anda berhasil apalagi dengan nilai yang sangat memuaskan tentu anda dapat melanjutkan kejenjang yang lebih tinggi dan sudah pasti anda juga merasa puas. Bagi siswa SMK setelah 3 tahun anda di didik dengan berbagai macam keterampilan inilah saatnya anda membuktikan dapatkah anda masuk atau bahkan menciptakan lapangan kerja yang baru dengan ilmu yang telah anda dapatkan selama anda duduk di bangku Sekolah Menengah Kejuruan tentunya dengan catatan anda harus bisa meloloskan diri dari berbagai macam ujian yang akan anda laksanakan sebentar lagi. Sebagai pertimbangan betapa ruginya anda jika anda harus mengulang selama 1 (satu) tahun lagi jika anda tidak bisa melewati Ujian Akhir Nasional ini dengan baik, karena Ujian Akhir Nasional kali ini tidak lagi mengenal adanya istilah Ujian Susulan atau Ujian Ulang untuk siswa yang tidak Lulus pada Ujian Akhir Nasional. Semoga saja anda semua siswa-siswi SD, SMP, SMA dan SMK Lulus dengan nilai yang sangat memuaskan.

BUPATI BENGKALIS, H SYAMSURIZAL; OPEN BOOK: UNTUK MENCIPTAKAN GENERASI LITERAT

Jakarta – Minggu terakhir di bulan Agustus dua tahun lalu. Tepatnya di depan stand pameran Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Bengkalis. Di sebuah ‘buku raksasa’ berukuran sekitar 3 x 5 meter, dengan huruf warna-warni, Bupati H Syamsurizal menuliskan delapan butir pesan nan bijak. Mengenai arti penting sebuah buku dan manfaat gemar membaca. Diantaranya pesan yang dituliskan orang nomor satu di kabupaten berjuluk Negeri Junjungan ini, adalah, ‘Budaya baca hanya bersemi manakala kita secara sadar mengisi waktu (to full time) dengan membaca. Bukan membaca sekedar untuk menghabiskan waktu (to kill time)’. Kemudian, masih tulis Bupati Bengkalis, H Syamsurizal; ‘Sebuah ruang tanpa buku adalah ruang tanpa jiwa’, ‘Tak ada kapal seperti sebuah buku yang mampu membawa kita ke ruang yang lebih jauh’, serta ‘Pelajar tanpa buku adalah bukan pelajar. baca terus……yuk

Penangkapan Psikotropika Terbesar Pertama Di Riau
27-March-2008

15 ribu extasi dan 550 gram shabu diamankan Polres Bengkalis

BENGKALIS – Prestasi gemilang dicatat jajaran Polres Bengkalis dalam menangkap pengedar narkoba di kabupaten berjuluk Negeri Junjungan ini. Selasa (25/3) lalu, jajaran Polsek Tebing Tinggi berhasil menangkap pelaku penyelundupan psikotropika jenis extasi dan shabu-shabu dengan mengamankan barang bukti berupa 15 ribu pil extasi dan 550 gram shabu-shabu. Tak tangung-tanggung, Kapolda Riau Sutjiptadi pun langsung datang ke Mapolres Bengkalis untuk mengekspos hasil tangkapan terbesar yang pernah terjadi di Riau yang bernilai sekitar Rp. 3 milyar itu. Seterusnya….

Sumber kekuatan baru bukanlah uang yang berada dalam genggaman tangan beberapa orang, namun informasi di tangan orang banyak.

Jangan biarkan jati diri menyatu dengan pekerjaan Anda.
Jika pekerjaan Anda lenyap, jati diri Anda tidak akan pernah hilang.

Ditulis dalam Tanpa Kategori | Leave a Comment »