ECM E-kom Cyber Media

Carilah Ilmu Selagi Hayat Dikandung Badan

Arsip untuk ‘Psikologi’ Kategori

Mencerdaskan Karyawan

Ditulis oleh Eko di/pada Juli 18, 2008

Ada petunjuk dari hasil studi ilmiah yang bisa kita pilih sebagai rujukan dalam mencerdaskan dan mengelola karyawan atau bawahan. Salah satu laporan menyebutkan bahwa perusahaan yang menaikkan fasilitas kerja sebanyak 10 % ternyata hanya mampu menciptakan kemajuan usaha sebesar 3 % saja. Sementara bagi perusahaan yang menambah program peningkatan karyawan sebanyak 10 % bisa menambah 8 % kemajuan.

Sebelumnya pernah ada studi ilmiah yang pernah dilakukan oleh Jim Collins, penulis buku  Good to Great Company (Random House: 2001). Studi ini memang dari awal difokuskan untuk meneliti seperti apakah perusahaan yang bergerak dari level good (bagus) ke great (hebat) itu dalam memperlakukan teknologi kerja.

Penelusuran ke lapangan menghasilkan temuan bahwa salah satu ciri khas menonjol perusahaan yang bergerak dari kualitas Good ke Great itu adalah kemampuan mereka dalam menentukan teknologi yang cocok dengan perkembangan perusahaan. Mereka tidak ikut-ikutan asal tambah teknologi baru yang  sebetulnya di lapangan kurang bermanfaat. Di sisi lain mereka juga tidak ketinggalan teknologi yang sebetulnya dibutuhkan oleh kemajuan kerja. Mereka menguasai teknologi tertentu yang benar-benar dibutuhkan oleh pekerjaan yang secara riil ada.

Merujuk pada kedua hasil temuan di atas, kira-kira salah satu  materi  tersirat yang ingin disampaikan kepada kita adalah, bahwa menambah kemampuan SDM sebenarnya lebih dibutuhkan demi kemajuan sebuah usaha ketimbang menambah fasilitas kerja, meskipun perlu disadari bahwa menambah kecanggihan fasilitas kantor pun juga penting.

Metode Alamiah

Terus terang bahwa kalau kita bicara praktek di lapangan nampaknya masih terlalu sangat sedikit kesadaran di kita akan pentingnya meningkat kualitas karyawan. Di luar persoalan  yang selalu kita kaitkan dengan keuntungan (manfaat) yang tidak menjajikan bagi perusahaan, kekhawatiran akan hengkangnya karyawan setelah “dipinterkan”, dan efisiensi kerja yang terganggu, memang ada masalah lain yang juga sering menjadi persoalan tersendiri, yakni masalah adalah cost (biaya tinggi).

Meskipun tidak bisa kita katakan seluruhnya, tetapi bisa kita pastikan bahwa sebagian dari kita mengahadapi persoalan itu. Ada keinginan untuk mengirim orang ke tempat pelatihan, pendidikan atau lokakarya, tetapi apa daya cash perusahaan belum menunjukkan angka yang memungkinkan untuk melakukan itu. Angka yang tidak mendukung ini bisa bermacam-macam bentuknya: mulai dari angka yang dibuat-buat atau angka yang memang benar-benar angka. Apa yang mungkin bisa kita lakukan andaikan saja persoalan di atas itu terjadi pada kita padahal di satu sisi kondisi usaha yang kita inginkan adalah terciptanya kemajuan orang-orang yang kita miliki yang kalau bisa secepat mungkin terwujud?

Dalam situasi seperti itu mungkin sudah saatnya kita melirik ke metode lain yang juga pada akhirnya akan memiliki minus-plus yang sama atau hampir sama jika kita bicara tentang esensi atau tujuan akhir suatu aktivitas pendidikan dan pelatihan. Seperti kata Galileo, esensi pendidikan di dunia ini adalah mengantarkan orang pada tingkat kesadaran yang semakin tinggi akan dirinya (peranan, tugas, tanggung jawab, keunggulan, dst). Di antara metode yang mungkin bisa kita lirik untuk kita terapkan dan (untungnya) sudah teruji hasilnya bagi orang lain adalah pilihan-pilihan berikut ini:

1. Strorytelling

Roberto Goizueto, seseorang yang pernah menduduki jabatan CEO Coca-Cola ini konon paling gemar menggunakan metode pendidikan karyawan yang dikenal dengan istilah “storytelling”. Teknisnya bisa digambarkan bahwa dia memiliki jadwal yang sudah teragendakan untuk memanggil karyawan. Di sini karyawan kemudian diberi penjelasan tentang bagaimana dirinya ditempa oleh keluarga untuk menjadi orang sederhana meskipun keluarga Roberto sendiri adalah pengusaha (pemilik pabrik gula).

Menceritakan riwayat hidup tentang bagaimana kita mengusahakan sesuatu yang didengar oleh orang yang secara kualitas prestasi dan posisi berada di bawah kita memang sudah tak bisa diragukan lagi muatan pendidikannya, terutama sekali pendidikan mental. Di samping itu, kalau kita bicara aspek manusiwi, metode storytelling ini lebih menyentuh ke dalam. Apalagi kalau sanggup diutarakan dengan ungakapan bahasa yang soft. Ia akan seperti salju yang semakin halus akan semakin meresap.

Manfaat lain lagi adalah berkurangnya  hambatan-manusiawi (human barrier) di lapangan yang disebabkan oleh munculnya kesalahpahaman tentang diri kita. Seperti yang sering kita alami, bahwa dalam praktek organisasi nampaknya sudah tak terhitung jumlah keputusan yang baik dan benar di tingkat atas, tetapi ketika dibumikan ke bawah ternyata terganjal oleh hal-hal yang sumbernya adalah kesalahfahaman karena pulau yang bernama “Human aspect”  itu belum tersentuh oleh kita.

2. Action learning

Metode ini bisa kita ambil acuannya dari hasil eksplorasi Professor Reg Revan yang kemudian dibakukan dengan istilah “Action Learning” (mengambil ilmu pengetahuan dari praktek yang kita jalankan di lapangan). Di negara tempat Reg Revan dibesarkan (Inggris), hasil eksplorasinya ini mendapat sambutan yang cukup positif dari kalangan akademisi hingga kemudian dijadikan materi mata kuliah di beberapa universitas di Eropa dan negara lain yang terus bertambah jumlahnya.

Kalau kita bicara Action Learning hari ini, mungkin elaborasi konsepnya sudah jauh kemana-mana yang kemungkinan besar sudah banyak yang tidak cocok lagi dengan kondisi kita alias butuh biaya tinggi pula. Hanya saja, apa yang pasti dapat kita terapkan dari metode ini adalah prinsip dasarnya. Metode ini berangkat dari sebuah landasan bahwa praktek yang kita lakukan sehari-hari merupakan sumber ilmu dan oleh karena itu perlu digali sedalam dan seluas mungkin untuk ditemukan materi yang bisa dipedomani.

Jika prinsip itu kita jadikan acuan, tentu semua orang dan semua bentuk usaha yang kita kelola hari ini memiliki kesanggupan untuk menerapkannya. Kita bisa membuka forum kecil-kecilan di kantor untuk membedah praktek yang sudah kita jalankan guna menemukan pembeda antara apa yang menghasilkan akibat positif dan apa yang menghasilkan akibat negatif. Menemukan pembeda inilah yang juga bisa disebut refleksi (menemukan pemahaman baru tentang sesuatu) yang oleh Charles Handy diletakkan di tahapan puncak suatu proses pembelajaran (learning).

Salah satu manfaat menerapkan prinsip dasar Action Learning ini adalah mengurangi besarnya “gap knowing-doing” dalam suatu usaha yang sering menjadi salah satu sumber pemborosan terbesar.  Dengan mempelajari praktek, kita akan mendapatkan ilmu dari praktek (Tacit Knowledge) dan sekaligus akan menambah cara-cara yang kita miliki dalam  mempraktekkan ilmu. Berubahnya status kita dari “tidak mau tahu” (ignorance) ke menjadi “tahu” (knower) ini umumnya bisa dilakukan oleh sebagian besar orang. Namun yang mungkin hanya sanggup dilakukan oleh sedikit orang adalah mengubah status dari tidak tahu ke tahu lalu ke menjalankan apa yang diketahui. Di sinilah Action Learning saatnya kita lirik.

3. Exampling

Metode ini paling mudah diucapkan, paling banyak diketahui orang, paling sulit diterapkan tetapi paling mujarab ketika dijalankan. Tak sedikit dari pakar SDM yang memberi saran bahwa  salah satu jurus yang bisa kita lakukan untuk mempertebal kepercayaan diri adalah melihat orang yang sudah memiliki kepercayaan-diri. Saran ini kalau kita kembalikan ke konsep pendidikan bukanlah saran yang bohong-bohongan. Vernon A. Magnesen menulis bahwa belajar dengan cara melihat dan mendengar  bisa berperan sebanyak 30 – 50 %.

Di sisi lain pengalaman alamiah kita juga telah mewahyukan bukti-bukti nyata bahwa banyak hal dari kemampuan yang kita miliki saat ini ternyata bukan berasal dari diri kita (temuan) melainkan karena kita meniru orang lain yang pernah kita jadikan contoh. Kita melakukan jurus tertentu karena dulu kita pernah melihat orang lain menggunakan jurus itu dan sering berhasil.

Merujuk pada konsep ilmiah dan bukti alamiah di atas maka memberikan contoh tentang bagaimana suatu pekerjaan itu harus dikerjakan menurut standar yang telah kita buat merupakan persoalan mendasar dalam pendidikan atau pelatihan. Albert Einstein malah berani mengatakan bahwa memberikan contoh bukan salah satu metode pendidikan tetapi satu-satunya metode pendidikan.

Beberapa Hambatan

Meskipun pilihan-pilihan di atas bisa kita jalankan dengan gratis, tetapi dalam prakteknya bukan berarti bisa dijalankan seperti orang membalik tangan. Banyak masalah yang muncul dan menghambat pelaksanaan keputusan kita. Di antara masalah itu adalah:

1. Kesadaran Proses

Mendidik orang itu diibaratkan seperti orang menanam kelapa. Tentu ini sebuah ungkapan simbolik yang kira-kira kalau kita terjemahkan dengan merujuk pada teori pendidikan atau petuah Aristotle akan membunyikan sebuah kalimat bahwa mendidik orang itu perlu dimulai dari mengisi muatan pikiran (mind) yang lebih baru, lalu sikap (attitude), lalu perilaku (behavior), lalu kebiasaan (habit), dan barulah karakter (character). Artinya, tidak seperti orang memukul benda keras dengan palu yang langsung ke efek fisik.

2. Salah Sasaran

Meneruskan ide besar yang ditulis oleh Jim Collins dalam bukunya itu, ada yang ia temukan dari para pemimpin perusahaan yang sanggup bergerak dari Good ke Great dalam memilih orang. Mereka lebih menekankan pilihan pada mental skill ketimbang job skill (keahlian kerja) dari orang-orang yang hendak direkrut menjadi pengikutnya. Pasalnya, keahlian kerja itu bisa diajarkan dan dapat ditransformasikan dari luar dengan waktu yang lebih cepat melalui sebuah transfer paket ilmu pengetahuan. Tetapi urusan keyakinan, kemauan, pandangan positif, dan semisalnya adalah sesuatu yang sudah mengakar di dalam diri orang sehingga kalau ingin diubah tak hanya cukup ditransfer dari luar (knower) melainkan membutuhkan inisiatif dari dalam (learner).

Belajar dari petunjuk di atas maka hal penting yang perlu kita perjelas dalam pemahaman kita adalah, siapakah orang yang perlu kita didik itu?. Jim Collins menggambarkan bahwa menaikkan gaji atau imbalan tidak banyak sanggup mengubah “wrong people” menjadi right people in right place. Menaikkan teknologi, fasilitas, gaji atau imbalan akan banyak mengubah (mencipatakan manfaat) the right people supaya tetap betah lebih lama berada in the right place.

Di sinilah saatnya kita mulai menerapkan sistem seleksi dan pengecualian dalam metode dan model orang. Praktek hidup menunjukkan bahwa ternyata tidak semua SDM itu aset bagi usaha. Hanya the right people yang menjadi aset. Orang yang menjadi aset ini biasanya menempati porsi minoritas yang kalau dirujukkan pada temuan Paretto bisa jadi jumlahnya hanya 20 % dari yang ada di samping kiri-kanan kita. Meskipun hanya sedikit tetapi kalau benar-benar menjadi aset dan kita asetkan, maka yang sedikit itu sudah lebih dari cukup.

3. Mematikan

Hambatan lain adalah kecenderungan kita untuk menggunakan pola berpikir tidak rasional (irrational thinking) ketika kita menjumpai praktek yang salah dari orang yang kita didik. Kalau kita merujuk pada praktek hidup, fakta yang paling rasional dalam sebuah pendidikan adalah munculnya kesalahan sehingga ketika kesalahan ini kita tolak atau tidak diolah sebagai materi pendidikan untuk menemukan apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dihindari, sama saja artinya dengan mematikan proses.

Pasti masih banyak metode lain yang bisa kita terapkan untuk meningkatkan kualitas karyawan, ketika kita dalam posisi masih memperhitungkan bahwa mengirim orang ke tempat lain itu merupakan bagian dari biaya tinggi (belum terbukti sebagai aset). Semoga bisa dipraktekkan.

Ditulis dalam Psikologi | Leave a Comment »

Antara Jalan Dan Tujuan

Ditulis oleh Eko di/pada Juli 18, 2008

Abraham Maslow pernah mengeluarkan nasehat bahwa salah satu yang penting untuk diingat bagi siapa pun yang ingin mengaktualisasikan potensinya adalah membedakan antara jalan dan tujuan dalam praktek hidup. Dalam teori, pasti semua orang sudah tahu apa itu perbedaan antara jalan dan tujuan, tetapi dalam praktek, jawabnya belum tentu.

Andaikan semua orang sudah mengerti perbedaan antara jalan dan tujuan dalam praktek, tentulah ilmu manajemen tidak sampai berpetuah: “Jangan menjadikan aktivitas sebagai tujuan”. Aktivitas adalah jalan, cara atau sarana sedangkan tujuan adalah sasaran yang hendak kita wujudkan dengan cara yang kita terapkan. Aktivitas bukanlah tujuan dan tujuan bukanlah aktivitas, dan karena itu perlu dibedakan.

Andaikan semua orang sudah mengerti perbedaan antara cara dan tujuan dalam praktek, tentulah Thomas Alva Edison tidak sampai berpetuah: “Jangan hanya menenggelamkan diri pada kesibukan demi kesibukan tetapi bertanyalah tujuan dari kesibukan yang Anda jalani.” Kesibukan kerapkali melupakan kita akan tujuan dari kesibukan itu dan karena itulah maka perlu diingatkan.

Dalam kaitan dengan pembahasan kali ini, mungkin sekali-sekali kita perlu bertanya kepada diri sendiri, apakah berpikir positif itu jalan atau tujuan? Menggunakannya sebagai jalan berarti setelah kita berpikir positif masih ada proses positif yang perlu kita jalani sedangkan menggunakannya sebagai tujuan berarti kita cukup hanya sampai pada tahap menciptakan pikiran positif atas kenyataan buruk di tempat kerja, di sekolah, di kampus dan di mana-mana.

Memilih sebagai jalan atau tujuan, sebenarnya adalah hak kita. Tidak ada orang yang akan melaporkan kita ke polisi dengan memilih salah satunya. Tetapi kalau kita berbicara manfaat yang sedikit dan manfaat yang banyak maka barangkali sudah menjadi keharusan-pribadi untuk selalu mengingat bahwa berpikir positif itu adalah jalan yang kita bangun untuk mencapai tujuan yang kita inginkan. Logisnya bisa dijelaskan bahwa jika jalan yang kita pilih itu positif, maka perjalanan kita menuju terminal tujuan juga positif atau terhindar dari hambatan-hambatan negatif akibat dari kekeliruan kita dalam memilih jalan. Begitu ‘kan?

Hal ini agak berbeda sedikit dengan ketika kita memilihnya sebagai tujuan. Dibilang baik memang sudah baik dan dibilang untung memang sudah untung. Untung yang paling riil adalah mendapatkan suasana batin yang positif atau terhindar dari hal-hal buruk yang diakibatkan oleh pikiran negatif. Dale Carnegie menyimpulkan: “Ingatlah kebahagiaan tidak tergantung pada siapa dirimu dan apa yang kamu miliki tetapi tergantung pada apa yang kamu pikirkan.”

Hanya saja, jika ini dikaitkan dengan persoalan mengaktualkan potensi atau meraih prestasi yang lebih tinggi di bidang-bidang yang sudah kita pilih, tentulah masih belum final. Mengapa? Perlu disadari bahwa suasana batin yang sepositif apapun tidak bisa mengaktualisasikan potensi sedikit meskipun kalau suasana batin kita keruh akibat pikiran negatif, maka usaha kita untuk mengaktualisasikan potensi itu dipastikan terhambat. Jangankan potensi, sampah pun, menurut Tom Peters, tidak bisa dibuang oleh pemikiran yang jenius atau oleh strategi yang jitu.

Bahkan menurut Charles A. O’Reilly, Professor, Stanford Graduate School of Business, dunia ini tidak peduli dengan apa yang kita tahu kecuali apa yang kita lakukan. Puncak dari kehidupan ini adalah tindakan, bukan pengetahuan. Mahatma Gandhi menyimpulkan bahwa ukuran penilaian manusia yang paling akhir adalah aksi, titik. Ini sudah klop dengan penjelasan Tuhan bahwa kita tidak mendapatkan balasan dari apa yang kita khayalkan (fantasi) melainkan dari apa yang kita usahakan.

Rahasia Berpikir Positif

Dengan memiliki suasana batin positif, maka ini akan menjadi sangat kondusif (mendukung) untuk menjalankan proses positif berikutnya, yang antara lain:

1. Pelajaran

“Hukum Tuhannya” mengatakan bahwa pelajaran positif itu ada di mana-mana sepanjang kita mau menggali dan menyerapnya: di balik kesalahan, kegagalan, pengkhianatan orang lain atas kita, di balik musibah buruk yang menimpa kita dan seterusnya. Hanya saja, meskipun pelajaran positif itu ada di mana-mana, tetapi prakteknya membuktikan bahwa pelajaran positif itu tidak bisa kita serap kalau batin kita sudah keruh oleh pikiran-pikiran negatif.

Mendapatkan pelajaran positif memang tidak langsung mengangkat prestasi kita tetapi kalau kita ingin mengubah diri kita untuk menjadi semakin positif maka syarat mutlak yang harus dimiliki adalah menambah jumlah dan kualitas pelajaran positif yang kita serap, seperti kata Samuel Smile dalam salah satu tulisannya: “Tidak benar jika orang berpikir bahwa kesuksesan diciptakan dari kesuksesan. Seringkali kesuksesan dihasilkan dari kegagalan. Persepsi, study, nasehat dan tauladan tidak bisa mengajarkan kesuksesan sebanyak yang diajarkan oleh kegagalan.”

2. Keputusan

Satu kenyataan buruk yang kita hadapi pada hakekatnya tidak mendekte kita harus mengambil keputusan tertentu tetapi menawarkan pilihan kepada kita. Tawaran itu antara lain adalah: a) boleh memilih keputusan untuk mundur,b) boleh memilih keputusan untuk mandek / kembali ke semula dan c) boleh memilih keputusan untuk terus melangkah dengan menyiasati, mencari celah kreatif, dan lain-lain.

Nah, salah satu syarat mutlak yang harus dimiliki untuk melahirkan keputusan yang nomor tiga adalah memiliki batin yang kondusif dan positif. Kita saksikan sendiri di lapangan bahwa meskipun semua orang punya keinginan untuk memilih keputusan nomor tiga, tetapi karena hanya sedikit orang yang punya kemampuan menghilangkan pikiran negatif, maka prakteknya justru keputusan nomor dua atau nomor satu yang menjadi pilihan favorit.

Jika dikaitkan dengan praktek hidup sehari-hari, ada hal yang tidak bisa diingkari bahwa semua orang setiap saat telah memilih keputusan tertentu tentang apa yang akan dilakukannya. Dari keputusan yang dipilih itulah lahir sebuah tindakan yang menjadi penyebab sebuah hasil. Karena itu ada saran Brian Tracy yang patut kita renungkan bahwa yang menentukan nasib kita itu bukan apa yang menimpa kita melainkan keputusan yang kita ambil atas apa yang menimpa kita. Artinya, keputusan mundur akan menghasilkan kemunduran; keputusan mandek akan menghasilkan kemandekan dan keputusan maju akan menghasilkan kemajuan.

3. Keteraturan Langkah

Apa yang menyebabkan langkah kita terkadang mudah diserang virus keputusasaan dan kepasrahan? Apa yang terkadang membuat kita mudah bongkar-pasang rencana hanya karena mood sesaat? Sebab-sebabnya tentu banyak tetapi salah satunya adalah pikiran negatif. Sekuat apapun fisik kita atau sekuat apapun keinginan kita untuk mewujudkan tujuan, biasanya akan tidak banyak membantu apabila pikiran ini sudah penuh dengan kotoran negatif. Kita menjadi orang yang putus asa bukan karena kita tidak mampu bertahan, melainkan karena kita telah mengambil keputusan yang fatal.

Nah, dengan menciptakan pikiran positif atas hal-hal buruk yang menimpa kita setidak-tidaknya ini menjadi bekal buat kita untuk melakukan hal-hal positif secara terus-menerus dalam arti tidak mengandalkan perubahan keadaan atau tidak mudah disakiti oleh pukulan keadaan. Seperti pesan Denis Waitley, “Bukan dirimu yang menjadi penghambat kemajuanmu tetapi muatan pikiran yang kamu bawa.”

Dari pesan itu mungkin ada satu hal yang perlu kita ingat bahwa pikiran negatif yang kita bawa atau yang kita biarkan itulah yang terkadang menjadi penghambat langkah kita atau mengganggu kelancaran langkah kita dalam menapaki tujuan yang sudah kita tetapkan. Karena itu paslah jika ada permisalan yang menggambarkan bahwa pikiran negatif itu akan memberikan kotoran di dada kita. Dada yang penuh dengan kotoran yang kita biarkan akan membuat punggung kita terbebani oleh muatan-muatan yang memberatkan lalu mengakibatkan langkah ini tidak selancar seperti yang kita inginkan.

Hal-hal Apakah yang Perlu Dijalani?

Di atas sudah kita singgung bahwa menggunakan pikiran positif sebagai jalan berarti setelah kita berpikir positif masih ada proses positif yang perlu kita jalani. Apa yang perlu untuk dijalani?

1.Temukan pelajaran khusus

Entah sadar atau tidak, kerapkali istilah berpikir positif ini hanya kita praktekkan sebatas berprasangka baik, meyakini adanya hikmah yang mencerahkan, atau sebatas punya opini positif. Tentu ini sudah benar dan sudah baik tetapi kalau kita kaitkan dengan hasil sedikit dan hasil yang lebih banyak, maka proses positif yang perlu kita lakukan adalah mengaktifkan pikiran kita untuk menemukan pelajaran-pelajaran spesifik yang benar-benar cocok dan relevan dengan keadaan-diri kita pada hari ini.

Sebut saja misalnya kita gagal dalam usaha. Memang sudah benar kalau kita berpikir bahwa di balik kegagalan itu ada hikmah buat kita. Hanya saja hikmah di sini mengandung pengertian yang seluas isi daratan, alias masih umum. Kegagalan usaha kita bisa disebabkan oleh waktu yang belum tepat, kesalahan memilih orang, kurang gigih, kurang skill, keadaan eksternal yang di luar kontrol, dan lain-lain. Karena tidak mungkin kita menyerap hikmah secara keseluruhan dalam satu waktu, maka yang paling penting adalah menyerap hikmah yang relevan saja sebagai bahan mengoreksi diri.

2. Gunakan dalam hal khusus

Banyak pengalaman yang sudah menguji bahwa memiliki rumusan tujuan yang jelas dan jelas-jelas diperjuangkan, ternyata memiliki manfaat cukup besar bagi proses positif. Dengan kata lain, untuk bisa menggunakan pelajaran yang sudah kita serap menuntut adanya rumusan tujuan yang kita upayakan realisasinya. Tanpa ini, mungkin saja pelajaran positif yang kita temukan itu akan nganggur alias kurang banyak manfaatnya.

J.M. Barrie memberikan contoh dari pengalamannya: Selama lebih dari 30 tahun saya memimpin, saya sampai pada kesimpulan bahwa yang paling penting di sini adalah memiliki kemampuan yang saya sebut “kegagalan maju”. Kemampuan ini bukan sekedar memiliki sikap positif terhadap kesalahan.  Kegagalan maju adalah kemampuan untuk bangkit setelah anda dipukul mundur, kemampuan untuk belajar dari kesalahan dan kemampuan untuk melangkah maju ke arah yang lebih baik.”

Dengan kata lain, agar kita bisa menjadikan kegagalan kita sebagai dorongan untuk meraih kemajuan tidak cukup hanya dengan memiliki pikiran positif dan sikap positif atas kegagalan itu, melainkan dibutuhkan upaya kita untuk menggunakan pelajaran yang sudah kita dapatkan dalam usaha meraih keinginan berikutnya. Pelajaran, pengetahuan, dan petunjuk pengalaman yang tidak kita gunakan untuk membimbing praktek kita pada hari ini akan menjadi dokuman yang nilai dan manfaatnya kurang.

3. Membuka Diri

Seperti yang sudah kita singgung di muka bahwa pelajaran positif yang ada di balik satu masalah, satu kenyataan buruk, atau di balik peristiwa yang kita alami dalam praktek hidup itu sangatlah tidak terbatas, tidak tunggal, tidak mono, dan karena itu sering disebut petunjuk (hidayah). Saking banyaknya itu, maka tidak mungkin ruangan milik kita bisa sanggup menyerap seluruhnya dan sekaligus sehingga yang dibutuhkan adalah membuka diri atas berbagai pelajaran positif yang diwahyukan oleh kesalahan kita, kesalahan orang lain yang kita lihat, temuan ilmu pengetahuan, nasehat, dan seterusnya.

Cak Nur pernah berpesan: “Sikap terbuka adalah sebagian dari pada iman. Sebab seseorang tidak mungkin menerima  pencerahan dan kebenaran jika dia tidak terbuka.” Sikap terbuka menurut Ajaran Kejawen (Javanese Spiritual Doktrine) merupakan syarat untuk mengarungi jagat “kaweruh” (sains, tehnologi, dst). “Syarat utama bagi pelajar adalah memiliki kemampuan dalam menghilangkan atau menyimpan untuk sementara waktu pemahaman dogmatis yang telah dimiliki dan mempersiapkan diri dengan keterbukaan hati-pikiran untuk merambah jagat ilmu pengetahuan. Selamat menggunakan. (jp)

Ditulis dalam Psikologi | Leave a Comment »

Modal Utama Pencari Kerja

Ditulis oleh Eko di/pada Juli 18, 2008

‘Ketika sudah bicara mencari pekerjaan, sepertinya tidak ada kesimpulan yang “wah” atau “aduhai”. Sebagian besar kita punya kesimpulan yang “aduuuh”. Hanya sedikit dari sekian ribu angkatan kerja pertahun yang punya kesimpulan “aduhai”. Sampai-sampai ada guyonan banyak yang ijazahnya terbakar karena saking seringnya di-fotocopy untuk urusan melamar kerja.

Saking sulitnya mencari kerja itu hingga tidak sedikit yang akhirnya menyimpulkan bahwa mencari kerja ini adalah urusan nasib. Nasib di sini maksudnya adalah sebuah wilayah yang tak terjamahkan oleh prediksi. Mengapa pekerjaan itu sedemikian sulit ditemukan di negeri sendiri?  Kalau melihat ke lapangan, ada sedikitnya dua hal yang perlu disadari:

1.      Faktor eksternal.

Untuk mendapatkan pekerjaan yang “asal kerja” saja ini memang sulit, apalagi yang benar-benar sesuai dengan background pendidikan. Ini lebih sulit lagi.  Sejumlah kesulitan itu disebabkan, antara lain:

Kondisi ekonomi secara makro sampai ke mikro.

Ketidakseimbangan pertumbuhan antara peluang kerja baru untuk lulusan baru dan jumlah lulusan baru

(berlaku untuk daerah tertentu atau bidang tertentu)

Tingginya persyaratan yang ditetapkan perusahaan untuk tenaga baru

Tingginya biaya kerja ke luar negeri bagi yang punya keinginan ke sana

Jauhnya link-match antara yang diberikan lembaga pendidikan (supplier) dan yang diminta industri

(demander)

Adanya KKN formal dan non-formal yang belum bisa dibersihkan secara tuntas dalam birokrasi swasta atau

pemerintah untuk urusan penerimaan tenaga baru

Model persaingan yang tidak jelas sebagai akibat dari pemerataan pembangunan yang belum optimal dilakukan

pemerintah

Lemahnya niat baik para pemilik peluang untuk menolong para pekerja baru (aturan normatif) atas nama

sesama bangsa sendiri

Dan lain-lain dan seterusnya.

2.      Faktor internal

Karena menghadapi kesulitan yang saking sulitnya dijabarkan dengan kata-kata dan logika itu, maka tak sedikit dari kita yang  terungkap dalam kata-kata, misalnya: saya sudah frustasi, saya sudah putus asa, saya sudah tidak mau lagi nglamar-ngalamar kerja karena toh hasilnya sama, dan lain-lain.

Sadar atau tidak sadar, sebetulnya inilah masalah yang ada di dalam diri kita. Artinya, jika kita ternyata belum mendapatkan pekerjaan sampai hari ini padahal kita sudah lama diwisuda,  maka yang ikut andil untuk menciptakan keadaan semacam ini bukan saja sulitnya mencari kerja di negeri sendiri, tetapi juga karena kita sudah malas-malasan, frustasi, sudah putus asa, dan semisalnya.

Kalau dijelaskan dengan logika perjuangan, maka masalah yang kedua ini yang lebih berbahaya. Kenapa? Sesulit apapun persoalan mencari kerja ini, namun kalau kita tetap mencari dengan kegigihan dan kemauan keras, maka (menurut “Teori Tuhannya”), kita PASTI  akan mendapatkan pekerjaan. Soal ini cocok atau tidak menurut versi kita, soal itu kapan dan dimana, ini soal teknis orang hidup. Kita dituntut untuk pandai-pandai mempertimbangkannya.

Tetapi akan berbeda halnya ketika kita sudah tahu sedang menghadapi keadaan eksternal yang sulit ditambah lagi dengan respon (cara menghadapi) yang negatif. Bisa kita bayangkan sendiri. Keadaan eksternal yang mudah saja akan menjadi tidak mudah apabila  ditanggapi secara negatif, apalagi  keadaan yang sulit dihadapi dengan respon yang negatif. Sulitnya berlipat ganda, tentu.

Selain ada masalah mentalitas, masalah yang kerap muncul juga adalah soal keahlian teknis atau keahlian kerja. Keahlian kerja adalah jenis ilmu pengetahuan khusus yang bisa digunakan untuk menyelesaikan persoalan di tempat kerja. Kalau kita hanya tahu akunting dari teori-teorinya, belum tentu ini bisa digunakan untuk menyelesaikan persoalan di tempat kerja. Dunia kerja menuntut penguasaan teori dan praktek. Soal kadarnya berapa, ini yang akan berbicara nanti proses.

Dari berbagai kasus di lapangan menunjukkan bahwa rendahnya penguasaan teknis (keahlian kerja) yang dimiliki oleh angkatan kerja baru, ini tak hanya mempersulit calon pencari kerja saja, tetapi juga ikut mempersulit perusahaan pencari tenaga kerja (pemilik peluang). Sampai-sampai ada ungkapan: kalau sekedar ingin mencari orang yang mau kerja atau ingin kerja, ini jumlahnya berlebih. Tapi untuk mendapatkan orang yang mau dan mampu bekerja, ini jumlahnya selalu kurang. Karena itu, tak sedikit dari pemilik peluang yang berinisiatif untuk iklan meski harus bayar mahal.

Ini semua sebetulnya adalah masalah sudah kita ketahui. Mencari pekerjaan memang sulit. Karena itu, dibutuhkan usaha yang serius supaya bisa mendapatkannya. Cuma memang yang lebih sering terjadi, pengetahuan kita tentang sulitnya mencari pekerjaan itu kurang kita gunakan untuk mendorong kesadaran untuk menciptakan penyiasatan-penyiasatan yang kreatif guna mempercepat proses mendapatkan pekerjaan.

Butuh Strategi

Penyiasatan yang perlu kita lakukan untuk mempercepat proses itu mencakup dua hal, yaitu: a) Strategi teknis, dan b) Strategi non-teknis. Di antara strategi teknis itu misalnya:

1.      Perlu memperbaiki penulisan surat lamaran

Ada pengalaman sedikit yang mungkin bisa diajadikan pelajaran, yaitu soal mengisi formulir. Meski semua orang pada dasarnya bisa mengisi apa yang diminta dalam formulir tetapi prakteknya tidak sedikit dari kita yang tidak mau dan tidak mampu, katakanlah di sini misalnya tinggi dan berat badan, berkacatama atau tidak, dan lain-lain. Bagi kita mungkin ini tidak penting tetapi bagi para pengambil keputusan,  bisa jadi ini penting. Ketika yang diminta itu kosong, pengambil keputusan biasanya tidak mau ambil pusing soal itu.  Lain soal jika jumlah pelamarnya sedikit.

Itu contoh kecil. Maksud saya, meski yang kita butuhkan adalah pekerjaan, tetapi hendaknya kita juga perlu memperbaiki perantara atau instrumen yang berlaku untuk mendapatkan pekerjaan itu. Perantara yang sangat penting di sini adalah seperangkat surat lamaran yang berisi antara lain: surat lamaran, CV atau resume, ijasah, sertifikat, dan lain-lain.

Kita perlu sadar bahwa meski semua orang bisa menulis surat lamaran, tetapi soal kualitas fisik dan isinya bermacam-macam. Ada yang baik, menarik, dan OK punya, tetapi ada yang terkesan asal-asalan. Tugas kita di sini adalah memperbaiki tampilan fisiknya dan isinya. Untuk ini, ada banyak cara dan petunjuk. Anda bisa membaca artikel tentang ini di website ini, bisa melihat di buku, bisa mencontoh dari orang-orang yang anda kenal. Intinya, jangan sampai menimbulkan kesan asal-asalan atau tidak lengkap.

2.      Perlu memperbanyak cara.

Dalam situasi yang sulit seperti ini, mungkin lebih tepat kalau kita menggunakan “Hukum Kemungkinan”. Artinya, semakin banyak cara yang kita tempuh, berarti semakin besar kemungkinannya. Semakin sedikit cara yang kita tempuh, berarti semakin kecil kemungkinannya. Sekedar untuk menyebutkan cara itu, misalnya: melalui iklan di media cetak, melalui iklan di media elektronik, on-line,  melalui pameran, melalui orang (jaringan), atau melalui perusahaan.

Saya ingin memberi catatan sedikit tentang dua cara yang terakhir. Sejauh yang selama ini kerap kita lihat, melamar pekerjaan melalui orang atau jaringan memang jauh lebih efektif dan efisien. Terlepas di situ ada KKN-nya atau tidak, tetapi cara ini akan menempatkan kita menjadi orang “khusus”. Konon, di Amerika yang tidak seruwet di kita dalam hal mencari kerja, 60 % para pekerja mendapatkan pekerjaan dari networking atau dari mulut ke mulut.

Yang menjadi soal adalah, bagaimana cara mendapatkan orang yang menolong kita itu? Ada tip sedikit yang bisa kita jalankan. Pertama, cara langsung. Anda bisa menanyakan langsung kepada orang yang sudah anda kenal seputar lowongan pekerjaan. Kedua, cara yang tidak langsung. Anda bisa menanyakan soal lowongan dari orang yang dikenal oleh orang yang anda kenal. Ketiga, memperbaiki dan memperjelas profile.

Bagaimana dengan melalui perusahaan jasa rekrutmen atau konsultan? Ini juga bagus. Saya kira sekarang ini sudah mulai banyak perusahaan yang bergerak di bidang rekrutmen, seleksi dan penempatan. Ada yang bisa pakai on-line, pakai sms, atau datang langsung. Khusus untuk penempatan dalam negeri, biasanya pihak perusahaan tidak meminta yang macam-macam dari pelamar selain seperangkat surat lamaran. Lain soal untuk yang di luar negeri.

3.      Perlu memperbanyak sasaran yang relevan.

Di era sekarang ini sudah banyak jenis usaha atau pekerjaan yang tidak ada sekolahnya atau yang tidak ada jurusannya, khususnya industri jasa. Karena itu, akan lebih tepat kalau kita tidak terpaku hanya melamar pekerjaan atau profesi yang sesuai dengan later belakang pendidikan. Asalkan ada keterkaitan dan anda tahu anda bisa, tidak ada salahnya juga anda mengajukan diri.

4.      Perlu memperbanyak sumber informasi

Sebagian besar informasi lowongan kerja itu tidak ter-publikasikan ke umum. Yang kita baca di koran, di majalah, di tempat-tempat umum itu hanya sebagian kecilnya saja. Karena itu dibutuhkan kemampuan mencari informasi yang baik. Untuk memiliki kemampuan ini memang mau tidak mau harus banyak membaca, bertanya, bergaul, menyelidiki, atau masuk komunitas tertentu.

5.      Perlu menambah keahlian yang supportive / yang relevan

Ini terkait dengan kecepatan. Kalau anda lulusan perhotelan dan anda juga punya penguasaan bahasa asing yang bagus, ini nilainya beda dengan ketika anda hanya tahu soal hotel. Akan lebih bagus lagi kalau anda juga tahu soal komputer, transportasi, dan lain-lain. Artinya, semakin banyak anda melengkapi keahlian utama dengan keahlian pendukung, semakin cepat anda mendapatkan pekerjaan. Langkah anda menjadi semakin luas. Inilah yang disebut dengan memperbaiki profile itu.

Yang tak kalah pentingnya di sini adalah memperkuat keimanan pada Tuhan. Ini salah satu masalah non-teknis yang perlu kita perbaiki. Keimanan terkait dengan sejauhmana kita sanggup melakukan upaya pencarian yang terus menerus sampai dapat.

Masalah-masalah Umum

Ada sejumlah masalah yang kerap muncul di lapangan dan ini perlu kita waspadai, antara lain:

1.      Terbujuk oleh rayuan yang tidak masuk akal. Ada sejumlah oknum yang ingin memanfaatkan keadaan sulit ini dengan cara memberi iming-iming pekerjaan yang bagus, gaji besar, dengan cara yang mudah, tanpa kualifikasi tertentu, tanpa proses bertele-tele, tetapi kita diminta untuk menyediakan sejumlah uang, sertifikat atau hal-hal lain di muka dengan  alasan yang tidak jelas. Meski kita bisa mengatakan ini aneh tetapi prakteknya kerap terjadi dan bahkan terang-terangan terjadi. Karena itu kita perlu waspada.

2.      Bergaul dengan orang yang setipe atau sederajat. Yang sering kita lakukan adalah bergaul dengan orang yang setipe masalahnya dengan kita. Karena kita sedang nganggur, kita pun bergaul dengan orang yang nganggur. Meski ini tidak berdosa dan baik-baik saja, tetapi untuk mendapatkan informasi yang bagus, maka kita perlu memperbagus pergaulan dan perkenalan. Akan lebih bagus lagi kalau kita memasuki pergaulan dengan orang-orang yang di atas kita secara prestasi (orang yang sudah bekerja)

3.      Termakan kesimpulan umum. Di masyarakat kita kerap muncul kesimpulan umum yang benarnya hanya sedikit tetapi kita menganggapnya sebagai kebenaran mutlak, semacam misalanya: yang S1 saja banyak yang nganggur, apalagi kamu hanya diploma atau SLTA, yang dari sekolah tehnik saja banyak yang nganggur, apalagi kamu jebolan sospol, yang dari PTN saja banyak yang nganggur, apalagi kamu dari PTS, dan lain-lain. Ini semua adalah contoh kesimpulan umum yang benarnya hanya sebagian. Dalam prakteknya, mendapatkan pekerjaan itu lebih mirip seperti orang main kartu di mana yang lebih sering menentukan kemenangan adalah “how to play”-nya.

4.      Hanya berhenti pada pekerjaan yang halal semata. Idealnya, tujuan dari perjuangan kita haruslah mendapatkan pekerjaan yang halal dan sekaligus pekerjaan yang bagus. Bagus di sini pengertiannya adalah menjadi lahan untuk mengaktualisasikan pengetahuan, pengalaman, keahlian atau kelebihan kita. Karena mencari pekerjaan itu sulit, akhirnya banyak dari kita yang hanya berhenti pada pekerjaan yang halal tetapi tidak mau menjadikannya sebagai jembatan untuk mendapatkan pekerjaan yang baik dan halal juga.

5.      Sedikit-sedikit ingin pindah karena alasan yang dangkal. Meski seluruh angkatan kerja baru itu punya keinginan yang menggebu-gebu untuk segera mendapatkan pekerjaan, tetapi prakteknya tidak seluruhnya siap secara lahir-batin mengikuti ritme dunia kerja. Dalam dunia kerja itu ada konflik, ada persaingan, ada hukuman dan ganjaran, dan lain-lain. Hal-hal semacam ini kerap dipahami sebagai sebuah kejadian luar biasa  yang hanya terjadi di kantor tempat kita bekerja dan tidak terjadi di tempat lain. Karena itu banyak yang memutuskan untuk berhenti saja atu ingin pindah saja sehingga tidak bisa konsentrasi. Pindah atau berhenti, itu hak kita, tetapi untuk perbaikan diri, hendaknya kita jangan pindah atau berhenti karena kita kalah oleh realitas  (lemah) atau menolak untuk belajar dari kenyataan.

Ditulis dalam Psikologi | Leave a Comment »

Menjadi Lebih Produktif

Ditulis oleh Eko di/pada Juli 18, 2008

Apa yang terlintas di benak kita saat mendengar istilah kerja cerdas? Ada yang mengartikan bahwa kerja cerdas itu adalah sebuah model kerja di mana seseorang melakukan pekerjaan sedikit tapi hasilnya besar. Berangkat kerja tanpa terikat pada aturan atau jam kerja formal atau berbisnis jarang-jarang tetapi sekali mendapatkan untung, untungnya cukup untuk dinikmati berbulan-bulan atau cukup untuk sekian minggu ke depan.

Orang yang berpendapat demikian mungkin menganut teori Paretto yang 80/20 itu (The law of imbalance). Kalau merujuk teori ini, berarti 80 % penghasilan orang itu dihasilkan dari 20 % aktivitas kerja / bisnisnya. Aktivitasnya hanya 20 % tapi penghasilannya 80 %.  Mungkin, karena orang seperti itu sudah lihai dalam membidik peluang, maka terwujudlah kerja cerdas dalam pengertian seperti di atas.

Terus terang, meski pengertian di atas sering saya dengar dalam pembicaraan, tetapi dalam prakteknya masih jarang saya lihat. Saya tidak tahu apakah Anda juga punya pengalaman seperti saya atau tidak. Yang kerap kita jumpai, kalau ada orang yang mendapatkan hasil banyak, orang itu juga bekerja banyak. Konon, Bill Gate yang dikenal orang pintar dan orang kaya, punya jam kerja yang jauh lebih banyak dibanding dengan karyawannya. Cuma bedanya, Bill Gate tidak merasakan pekerjaannya sebagai tekanan yang membebani.

Tak hanya Bill Gate saja. Di beberapa stasiun teve sekarang ini kerap ditayangkan sukses stori para pengusaha lokal, baik UKM atau Non-UKM. Sejauh saya mengikuti sampai saat ini memang saya belum pernah mendengar dari mereka yang mengatakan bahwa prestasi usahanya itu diciptakan dari model kerja cerdas dalam pengertian di atas. Yang sering mereka katakan justru adalah prinsip mendasar yang umumnya sudah diketahui banyak orang, misalnya: jujur, disiplin, bekerja keras, menjaga kepercayaan, dan semisalnya.

Terlepas apapun orang mengartikan kerja cerdas, tapi di sini kita akan membahas kerja cerdas dalam pengertian: bagaimana kita bisa menjadi lebih produktif dengan alokasi waktu kerja yang sama atau dengan menggunakan peralatan yang sama. Atau dalam pengertian: bagaimana kita bisa memproduksi solusi (barang atau jasa) yang lebih banyak atau lebih cepat dalam waktu yang sama dengan menggunakan peralatan yang sudah kita miliki.

Mungkin contoh beratnya bisa kita ambil dari hasil kerja Frederick W. Taylor pada tahun 1911. Seperti yang sudah jamak diketahui, Taylor adalah seorang insinyur yang bekerja di pabrik. Taylor tidak puas dengan produktivitas para pekerja yang sangat rendah kala itu. Melihat keadaan seperti itu, Taylor menawarkan revolusi mental yang kemudian dikenal dengan 4 prinsip manajemen.

Sebagai bahan perbandingan buat kita, Taylor menawarkan solusi antara lain:

a) Mengembangkan metode, konsep, atau ilmu pengetahuan tentang bagaimana mengerjakan pekerjaan dari pekerjaan itu atau memunculkan teori aplikasi yang terbaik dari pekerjaan yang dilakukan

b) Memilih dan melatih para pekerja dengan pertimbangan dan keputusan yang logis,

c) Menciptakan komunikasi yang sinergis antara manajemen dan pekerja

d) Pembagian kerja dan tanggung jawab yang tegas.

Berdasarkan kondisi dan situasi kontekstual kala itu, konon revolusi mental yang ditawarkan Taylor ini berhasil meningkatkan produktivitas pekerja sampai mencapai 200 %. Menggiurkan, bukan? Atas keberhasilan yang dicapai, Taylor kemudian diberi gelar Bapak Manajemen Ilmiah.

Contoh yang ringan bisa kita ambil dari kebiasaan sehari-hari. Ketika bicara produktivitas, pasti berbeda antara orang yang bekerja dengan target di kepalanya dan orang yang bekerja tanpa ada target di kepalanya. Pasti berbeda antara orang yang bekerja dengan mengembangkan tehnik dan orang yang bekerja dengan tanpa mengembangkan tehnik. Pasti berbeda antara orang yang bekerja dalam keadaan marah dan orang yang bekerja dalam keadaan happy. Pasti berbeda antara orang yang bekerja berdasarkan prioritas dan orang yang bekerja asal-asalan. Pasti berbeda antara orang yang bekerja dengan konsep dan orang yang bekerja tanpa konsep. Bahkan terkadang ada bedanya antara kita bekerja dengan menelpon orang lebih dulu dan bekerja lebih dulu baru menelpon orang. Ini contoh riil yang kita alami sehari-hari.

Intinya, seperti kata orang bijak, di semua pekerjaan di dunia ini ada rahasia Tuhan. Rahasia itu jika semakin kita gali tidak berarti semakin habis. Justru rahasia itu semakin bertambah. Bahkan rahasia itu tidak akan habis ditulis dengan tinta air laut. Ini terjadi dari mulai bagaimana seorang pelayan diskotik menuangkan minuman dari botol ke gelas dengan gayanya yang khas sampai ke bagaimana seorang arsitek merancang bangunan bertingkat. Tugas kita adalah sebetulnya menggali rahasia-rahasia itu sehingga kita bisa selalu meningkatkan produktivitas.

Dengan bertambahnya kemampuan untuk memproduksi solusi yang lebih besar dan lebih cepat, maka secara logis ini akan meningkatkan penghasilan kita. Soal berapa persennya dan kapan peningkatan hasil itu akan terwujud, ini urusan tehnis. Tapi prinsipnya kira-kira begitu.

Syarat menjadi lebih produktif

Beberapa syarat mental di bawah ini sebenarnya adalah tambahan dari yang sudah kita miliki berdasarkan pengalaman sehari-hari. Atau bahkan mungkin sebatas sebagai reminder (pengingat) atas hal-hal mendasar yang kerap kita lupakan dalam praktek. Nah, syarat mental yang perlu kita miliki untuk mencapai kerja cerdas dalam pengertian yang kita bahas di sini adalah:

Mengembangkan standar prestasi yang pas

Pas di sini artinya memiliki standar yang match atau sesuai dengan perkembangan kita hari ini. Seperti yang kita alami, jika standar yang kita patok itu terlalu rendah, biasanya produktivitas kita juga rendah. Tapi, jika terlalu tinggi atau terlalu banyak, biasanya malah bingung atau malah sedikit hasilnya. Karena itu ada yang menyarankan, little is more and more is little.

Dengan kata lain, supaya tetap produktif, berarti kita perlu memberi standar yang benar-benar pas dengan dinamika perkembangan kita. Jangan terlalu rendah atau jangan terlalu sedikit. Tapi, jangan juga terlalu tinggi atau jangan terlalu banyak.

Mengasah kreativitas

Kreatif atau tidak kreatif, pada akhirnya adalah masalah manajemen batin. Suasana atau fasilitas memang mendukung kreativitas, tapi jika batin ini tidak kreatif, fasilitas dan suasana itu tidak ada gunanya. Mengasah kreativitas ini bisa kita lakukan dengan menyediakan ruang untuk menemukan berbagai kemungkinan untuk menciptakan metode, cara atau tehnik baru yang lebih efektif dan lebih efisien dan yang membuat kita menjadi lebih produktif.

Soal apa bentuknya, bagaimana caranya dan lain-lain, ini urusan kita masing-masing. Ini mengingat, biasanya, the best tehnique is always not in the book. Tehnik, metode atau cara yang kita dapatkan dari orang lain atau dari buku, ini umumnya sebagai “an aid” atau bantuan buat kita untuk melakukan discovery atau eksplorasi.

Menajamkan fokus

Produktivitas sangat erat hubungannya dengan soal fokus. Fokus, karena itu merupakan kekuatan. Contoh sepele, misalnya: jika kita melihat benda di depan mata tetapi pikiran kita tidak fokus, maka produktivitas penglihatan kita juga tidak bagus. Ini terjadi sampai ke hal-hal yang sangat mendasar dalam hidup manusia.

Jika seseorang memfokuskan pikirannya untuk melihat masalah, maka yang menjadi kesimpulan di batinnya adalah masalah. Sebaliknya, jika seseorang memfokuskan pikirannya untuk melihat peluang, maka yang menjadi kesimpulan di batinnya tentang dunia ini adalah peluang. Meski awalnya ini adalah soal kesimpulan di batin, tetapi pada tahapan tertentu akan mempengaruhi tindakan dan produktivitasnya.

Saking eratnya hubungan antara produktivitas dan fokus, teori manajemen sampai mengajarkan kita untuk membagi aktivitas menjadi:

a) prioritas

b) penting

c) mendesak

d) distraksi

Jika kita gagal membedakan antara prioritas dan distraksi (aktivtas yang tidak prioritas, tidak penting dan tidak mendesak), pasti fokus pikiran kita kacau. Kalau sudah kacau, produktivitas kita pun akan terancam.

Menggali Tacit knowledge

Istilah Tacit Knowledge ini bisa kita jumpai di naskah kerja Robert J. Stenberg, pakar Psikologi di Yale University. Ini adalah semacam pengetahuan spesifik tentang sesuatu yang diperoleh seseorang dari praktek. Tacit Knowledge ini punya ciri khas  antara lain:

Pengetahuan itu adalah sebuah prosedur  di dalam diri seseorang tentang bagaimana sesuatu harus dikerjakan

Pengetauan itu merupakah buah dari melakukan sesuatu, bukan buah dari diajar orang lain

Pengetahuan itu bersifat sangat pribadi

Seorang sopir yang sudah berpengalaman, pasti memiliki prosedur batin tentang bagaimana menjalankan kendaraan yang diajarkan oleh pengalamannya. Prosedur batin itu biasanya tidak dimiliki oleh seoran sopir yang baru lulus dari sekolah montir. Kita sering menyebutnya dengan istilah “feeling” atau gerakan reflek, atau juga disebut beyond the technique.

Kaitannya dengan produktivitas di sini sangat jelas. Seorang sopir yang sudah bekerja dengan feeling tadi, pasti lebih produktif. Dia lebih tahan lama, lebih rileks, dan lebih cepat. Saya kira ilustrasi ini juga bisa kita terapkan dalam pekerjaan sehari-hari.

Menjaga harmonitas

Seperti juga alam raya ini, hidup kita akan produktif kalau hormonitasnya terjaga, serasi atau seimbang. Belajar dari praktek hidup, mayoritas penyakit yang merupakan ancaman produktivitas, entah itu penyakit jiwa atau raga, mulanya muncul dari pengabaian kecil (ignorance) yang kemudian menimbulkan ketidakhamonisan, atau ketidakseimbangan ke hampir seluruh wilayah hidup.

Contohnya adalah kurang tidur. Ketika kita kurang tidur, yang terjadi bukan hanya kita butuh tidur di siang hari sebagai pengganti waktu tidur yang telah kita gunakan untuk yang lain. Kurang tidur yang sudah sampai pada tingkat overdosis, bisa menganggu hubungan kita dengan pekerjaan, dengan orang lain, dan seterusnya, yang akhirnya mengakibatkan produktivitas rendah.

Perlindungan batin

Batin di sini, tidak bisa kita samakan dengan emosi.  Melindungi batin, bukanlah melindungi emosi. Kalau konteksnya produktivitas, batin kita perlu dilindungi dari kotoran yang menganggu produktivitas. Biasanya, kotoran itu adalah masalah yang kita ciptakan sendiri secara tidak sengaja atau masalah yang didatangkan orang lain untuk kita – yang tidak kita oleh menjadi vitamin batin. Maksudnya ? Kita sering mendengar ucapan, kritik atau pun pendapat orang lain yang tidak enak mengenai diri kita, cara kerja maupun hasil pekerjaan kita.

Kita bisa saja menganggapnya sebagai sampah yang mengotori batin dan harus dibuang, atau menanggapnya sebagai warning signal – atas sesuatu di dalam diri yang perlu kita renungkan. Kalau kita mau belajar dan bertumbuh, mata batin kita lah  yang harus menangkap “kata-kata” yang ditujuan pada kita, bukan telinga kita. Mata batin, bisa melindungi kita dari self-denial (pengingkaran kenyataan diri). Kita bisa tutup telinga – tapi tidak bisa menutup mata batin. Kejernihan suara batin bisa menuntun kita bekerja cerdas, kalau kita mau mendengar tuntutannya.

Apa mungkin kita sanggup membersihkan batin dari masalah untuk sekedar menjadi lebih produktif? Kalau konteksnya praktek hidup, maksudnya yang lebih tepat bukanlah bersih dalam arti tidak ada masalah atau lari dari masalah. Selain mustahil, pun juga ini malah tidak produktif. Maksudnya adalah menyelesaikan masalah secara sehat, benar, jujur dan proporsional. Kalau kita proporsional dalam memikirkan, bersikap dan bertindak, maka produktivitas kita tidak terganggu dengan masalah yang ada.

Jika kita sedikit-sedikit sakit hati atau terlalu memasukkan hati ulah orang lain, dan tidak menjadikannya “obat pahit”, ini bisa mengganggu produktivitas. Batin kita akan bekerja untuk memikirkan orang lain dalam pengertian memikirkan yang tidak perlu, bukan memikirkan bagaimana memperbaiki dan mengembangkan diri, serta memproduksi solusi yang lebih banyak atau lebih cepat. Semoga bermanfaat !

Ditulis dalam Psikologi | Leave a Comment »